Sunday, 15 January 2017

Potret Negeri Ini

Indonesian Free Press -- Jujur ini yang saya rasakan tentang jokowi. MOVE ON DONK... Jangan menyalahkan presiden. Pak Jokowi sedang bekerja keras untuk bangsa ini. Memangnya apa yang sudah kalian lakukan untuk negeri ini? Kalau gak suka pindah negara saja.

Harusnya kalian bersyukur punya presiden kayak Jokowi, yang menjamin kebebasan berdemokrasi. Ramalan Wanda Hamidah tepat. Kalau presidennya bukan Jokowi, akan ada pembungkaman suara rakyat, rakyat kecil dituduh menebar kebencian atau dijerat UU ITE, chatting diawasi pemerintah, media dibredel, aktifis yang mengkritik pemerintah akan dijemput paksa dengan tuduhan MAKAR. Orde Baru Jilid 2 vroh.
Jokowi itu humble, sederhana dan merakyat. Sama konglomerat tajir yang nunggak pajak triliunan saja Pak Jokowi mau mengampuninya, apalagi sama rakyat kecil. Jadi gak mungkin Pak Jokowi menaikkan pajak dengan mencekik rakyat kecil. Pajak kendaraan naik 300% itu Hoax! Yang naikin pajak pasti Habib Rizieq FPI.

Ulama Dikriminalisasi, Dosen Unpad Ingatkan Bahaya PKI

By Tarbiyah

Indonesian Free Press -- Para orangtua yang lahir pada era 50-an dan 60-an, pasti tahu sejarah hitam PKI. Pun orang-orang yang lahir pada era 70-an dan 80-an, mengetahui bahaya PKI dari orang tua mereka.

Namun mereka yang kini baru berusia belasan tahun atau dua puluhan tahun, kadang belum memahami bahaya PKI.

Menyadari hal itu, banyak tokoh yang merasa perlu mengingatkan generasi muda terkait sejarah dan bahaya PKI.

Dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) Maimon Herawati, mengingatkan generasi muda terkait sejarah kelam PKI. Bagaimana sikap mereka pada ulama. Dalam waktu singkat, tulisan di akun Facebook pribadinya itu menjadi viral.

Saturday, 14 January 2017

Takut Balasan Rusia, Agen MI6 Menghilang

Indonesian Free Press -- Inilah yang saya sukai dari dunia jurnalisme Eropa daripada Amerika. Meski secara mainstream tetap membela kepentingan zionis, namun dalam berbagai kasus tertentu mereka masih memiliki sikap independen.

Contohnya adalah Robert Fisk, jurnalis senior yang sering menulis tentang konflik di Suriah di media mainstream 'kanan' The Independent. Ia tetap pembela kepentingan neo-liberalisme/zionisme dan menganggap Bashar al Assad dan aparatnya sebagai 'pembunuh', namun ia juga pengecam tajam pemerintah Inggris dan Amerika dan selalu menulis tentang Hillary Clinton dengan nada ejekan, 'La Clinton'.

Kasus terakhir yang kebetulan saya temukan, karena saya memang tidak pernah secara khusus mengamati media-media Eropa, adalah laporan di Daily Mail, 12 Januari lalu berjudul 'Agent Named as Being Behind the Trump “Dirty Dossier”' yang ditulis wartawan Martin Robinson dan Sam Greenhill.

Friday, 13 January 2017

Iran akan Bangun Kapal Induk

Indonesian Free Press -- Insiden antara kapal-kapal Iran dan Amerika kembali terjadi dengan kapal perang Amerika mengeluarkan tembakan peringatan ke kapal-kapal cepat Iran, Minggu lalu (8 Januari).

Seperti dilaporkan CNN yang mengutip keterangan pejabat keamanan Amerika, Senin (9 Januari), sebanyak lima atau enam kapal patroli cepat Iran mendekati kapal destroyer Amerika USS Mahan di Selat Hormuz dengan kecepatan tinggi. Untuk mengusir pergi kapal-kapal tersebut USS Mahan menembakkan tembakan peringatan dan segala peralatan yang bisa digunakannya termasuk peluit dan panggilan radio.

"Sebuah helikopter menjatuhkan granat-granat asap," tulis laporan itu.

Saat itu USS Mahan tengah berlayar bersama kapal serang amphibi USS Makin Island. Keduanya tengah berlayar menuju Teluk Parsia. Sedangkan Selat Hormuz berada di antara Teluk Parsia dan Teluk Oman.

Wednesday, 11 January 2017

Benarkan Jokowi Mau Pecat Panglima TNI?

Indonesian Free Press -- Dalam beberapa hari terakhir merebak kabar atau tepatnya desas-desus tentang akan dipecatnya jabatan Panglima TNI yang tengah dipegang oleh Jendral Gatot Nurmantyo. Hal tersebut diperkuat oleh berita yang ditulis oleh sejumlah media massa tentang hal tersebut.

Harian Republika, misalnya, pada hari Senin (9 Desember) mengabarkan hal senada. Mengutip laporan kantor berita Inggris Reuters, Republika menulis laporan berjudul 'Reuters Kabarkan Presiden Jokowi Tegur Panglima TNI Gatot Nurmantyo'.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Presiden Joko Widodo telah menegur Panglima Militer dalam satu pertemuan resmi. Sikap itu diambil menyusul langkah Panglima Jenderal Gatot Nurmantyo yang secara sepihak menghentikan hubungan kerja sama keamanan dengan Australia, tanpa meminta pendapat presiden dan para menteri terkait terlebih dahulu.

Tuesday, 10 January 2017

Pizzagate, Fakta Mengerikan yang Disembunyikan

Indonesian Free Press -- Untuk memahami sisi gelap skandal Pizzagate kita harus memahami sisi gelap orang-orang yahudi, orang-orang yang sama yang banyak terlibat dalam skandal Pizzagate.

Pada masa 'pencerahan' Eropa atau sekitar abad 15, sastrawan besar Inggris Shakespeare menulis salah satu drama yang sangat terkenal hingga saat ini, yaitu 'Saudagar dari Venesia'. Dalam drama tersebut dikisahkan tentang seorang rentenir yahudi di Venesia, Italia, yang suka meminta bayaran berupa keratan daging manusia dari orang-orang yang tidak sanggup membayar hutang beserta bunganya yang mencekik leher.

Mungkin kita hanya menganggap apa yang ditulis tersebut sebagai 'ilusi' Shakespeare belaka. Bahkan, bila saja Shakespearre hidup di jaman sekarang dan belum telanjur dianggap sebagai sastrawan besar, ia tentu sudah dicap sebagai 'anti-semit', 'hater' dan penyebar 'hoax' dan kemudian hidupnya berakhir di penjara.

Monday, 9 January 2017

Tes DNA, Wani Pora?


Soerat Terbuka Mahasiswa ITB

Indonesian Free Press --

Dengan Nama Tuhan yang Maha Pengasih, dan Maha Penyayang

Kepada
Joko Widodo,
Presiden Republik Indonesia

Kami, Keluarga Mahasiswa ITB, mengunakan hak konstitusi kami yang dijamin dalam Pasal 28E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 bahwa Setiap orang berhak menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya dan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat[1]; maka melalui surat ini, kami sama sekali tidak bermaksud untuk dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi atau dokumen yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik, pemerasan dan atau pengancaman, menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, atau menimbulkan rasa kebencian (hate speech) sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 dan 28 Undang UU 11 tahun 2008 dan penjelasnya pada UU No 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik[2].

Sunday, 8 January 2017

Turki Ancam Tutup Incirlik, Erdogan dalam Bahaya Besar

Indonesian Free Press -- Hubungan Turki dengan Amerika dan NATO berada di titik paling buruk setelah Turki mengancam akan menutup pangkalan NATO di Incirlik, Turki selatan. Para pengamat menyebut Presiden Erdogan kini dalam posisi yang sangat berbahaya.

Dalam wawancara dengan 24 Channel hari Kamis (5 Januari), Jubir Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin mengatakan bahwa Turki berhak untuk menutup pangkalan udara NATO di Incirlik. Selama ini pangkalan ini menjadi basis utama operasi Amerika-NATO melawan terorisme di Suriah dan Irak.

Pernyataan ini menyusul sejumlah kecaman pejabat Turki tentang peranan NATO dalam membantu Turki dalam operasi militer di Suriah. Terutama pada saat Turki kepayahan menghadapi ISIS dalam pertempuran di kota al Bab.

"Kami selalu memiliki hak untuk mengatakan, 'kami akan menutup pangkalan ini'. Namun seperti saya katakan, kondisinya masih akan dievaluasi," kata Kalin.

Saturday, 7 January 2017

'Wani Pora?', Jokowi Ditantang Tes DNA

Indonesian Free Press -- Penangkapan Bambang Tri, penulis buku ‘Jokowi Undercover’ mendapat tanggapan beragam dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Prof Tamim Pardede. Ahli biokimia ini menyesalkan tindakan kepolisian yang telah menetapkan Bambang Tri sebagai tersangka.

Suara yang sama dikeluarkan oleh komisioner Komnas HAM yang mempertanyakan identitas sejati Jokowi dengan mendesak dilakukan tes DNA oleh yang bersangkutan.

Kepala Riset Biokimia PT Amanah Semesta Alam ini mengatakan, Bambang Tri belum bisa dipersalahkan sebelum dilakukan tes DNA kepada Jokowi. Demikin seperti dikabarkan Berita Islam 24H baru-baru ini.

Prof Tamim menegaskan, sikapnya jelas dalam menyikapi kasus Bambang Tri. Tamim Pardede mengaku dia bukan manusia abu-abu. Katena itu dia menentukan sikap untuk mendukung Bambang Tri.

“Terkait dengan kasus Bambang Tri, mengenai bukunya Jokowi Undercover, Muhammad Tamim Pardede menyatakan, saya berpihak kepada Bambang Tri,” tegas Tamim Pardede melalui video berdurasi 3 menit satu detik yang diunggah di youtube, 5 Januari lalu.

“Benar atau tidaknya Bambang Tri, benar atau tidaknya Jokowi, hanya ada satu cara menentukan, yaitu tes DNA,” tambah Tamim Pardede.