Thursday, 19 October 2017

Isu Pribumi Vs Al Maidah 51

Oleh : Hersubeno Arief

Penggunaan kosa kata pribumi pada pidato Gubernur DKI Anies Baswedan, bagi para veteran pendukung Ahok adalah durian runtuh.
Seperti bunyi pepatah “pucuk dicita, ulam tiba.” Anies seolah memberi amunisi bagi para penentangnya. Baru dilantik, Anies langsung membuat blunder. Benarkah begitu?
Tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, sejumlah orang yang mengaku mewakili Banteng Muda Indonesia (BMI) mendatangi Polda Metro Jaya. Salah satu diantaranya adalah Ronny Talapessy yang disebut sejumlah media sebagai mantan tim kuasa hukum Ahok dalam kasus penistaan agama c/q Al Maidah 51.

Wednesday, 18 October 2017


AWAS PRIBUMI SAMPAH


HATTA TENTANG KETURUNAN ARAB DAN CINA


VIRALKAN LUHUT


BIN DAN BAIS HARUS PROAKTIF SIKAPI ISYU PRIBUMI

Badan Intelijen Negara (BIN)
dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) harus proaktif dalam
mendapatkan informasi siapa
sebenarnya aktor intelektual
di balik hiruk pikuk di sosial
media yang memojokkan

Keseriusan Ambisi Erdogan Diuji di Kurdistan-Irak

Indonesian Free Press -- Para sejarahwan dan pengamat politik Timur Tengah mengetahui dengan pasti bahwa Presiden Turki, Tayyep Recep Erdogan, sangat berambisi untuk mengembalikan kejayaan Ottoman Turki, atau minimal seperti Republik Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Atatürk.

Di bawah Kesultanan Ottoman, Turki menguasai sebagian besar wilayah Eropa Timur, Mesir hingga Jazirah Arab. Sedangkan Ataturk, pemimpin Turki paska kalahnya Turki dalam Perang Dunia I, menyerbu Yunani dan Siprus dan merebut kembali wilayah Suriah dan Irak utara yang diklaim sebagai wilayah terotorialnya.

Di bawah Erdogan, dengan memanfaatkan situasi konflik, Turki sudah menguasai sebagai Suriah dan Irak Utara. Namun kini ia ditantang oleh Kurdistan-Irak yang hendak memerdekaan dirinya.

Tuesday, 17 October 2017

Pernyataan Sikap Akademisi Univ. Ibnu Chaldun Tentang Pribumi Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Akademisi Universitas Ibnu Chaldun Jakarta setelah mempelajari, mendalami dan membahas tentang pernyataan Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI Jakarta mengenai pribumi yang saatnya menjadi tuan di negeri sendiri, yang diucapkan dihadapan puluhan ribu massa di halaman Balaikota Jakarta (16/10) merasa perlu menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:
1. Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengenai pribumi "saatnya menjadi tuan di negeri sendiri" sejatinya diberi apresiasi, karena yang dikemukakan merupakan fakta sosiologis yang tidak terbantahkan, bahwa kelompok mayoritas dari bangsa Indonesia semakin lama semakin termarjinalisasi dalam ekonomi.

Putin Tertawa, Menterinya Usul Ekspor Babi ke Indonesia

Indonesian Free Press -- Presiden Rusia Vladimir Putin tertawa geli ketika seorang menterinya mengusulkan untuk mengekspor babi ke Indonesia.

Seperti dilaporkan The Jakarta Post yang mengutip laporan Al Jazeera, hari ini (17 Oktober), dalam sebuah rapat kabinet yang tidak disebutkan waktunya namun dipastikan berlangsung belum lama berselang, Menteri Pertanian Alexander Tkachev mengusulkan untuk mengekspor babi ke Indonesia. Ia memberi contoh dengan Jerman yang berhasil mengekspor babi ke sejumlah negara Asia termasuk INdonesia.

Menurut laporan itu, Putin awalnya tampak kaget dengan usul itu sebelum kemudian tertawa. Ia kemudian mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara Muslim yang warganya tidak makan babi. Tkachev juga ngotot bahwa warga Indonesia bisa menerima babi. Baru beberapa saat kemudian, setelah Putin menegaskan kembali keyakinannya, Tkachev mengaku bahwa yang dimaksudkannya bukan Indonesia, melainkan Korea Selatan.

Cina Persiapkan Invasi ke Korut?

Indonesian Free Press -- Salah satu media terkemuka Inggris, Daily Express, melaporkan bahwa Cina tengah melakukan pembangunan infrastruktur strategis sebagai persiapan untuk melakukan invasi ke Korea Utara (Korut). Namun, bisa jadi sebaliknya. Infrastruktur itu membantu Korut menghadapi kemungkinan invasi Amerika.

Seperti dilaporkan oleh The Express, Cina diketahui tengah membangun jalan raya di wilayah yang menghubungkan ke perbatasan Korut. Sejumlah analis meyakini, ini adalah bagian dari rencana Cina untuk menginvasi Korut, yang dianggap telah menjadi gangguan bagi kepentingan Cina berkaitan dengan krisis rudal nuklir Korut.