Wednesday, 31 July 2013

SIAPA TERORIS SEBENARNYA

Tahun 1982 Israel menggunakan tangan milisi Kristen Lebanon untuk membantai umat muslim Palestina di Sabra dan Shatilla.

Tahun 2003 Amerika menggunakan tangan para "mujahidin" untuk membantai umat Muslim Irak.

Kini zionis internasional melakukan hal yang sama di Syria.

MEMBACA DENGAN AKAL DAN NURANI

Dalam peristiwa Perang Inggris (Battle of England) yang merupakan salah satu episode penting pada Perang Dunia II, ketika Inggris dan Jerman saling menghancurkan kota-kota lawannya dengan serangan udara, kedua negara secara diam-diam mengadakan kesepakatan. Kesepakatan tersebut adalah: Inggris tidak akan mengebom kawasan Lembah Ruhr yang merupakan jantung industri Jerman, sedang Jerman tidak mengebom Oxford dan Cambridge yang merupakan jantung kebudayaan Inggris.

Demikian juga dalam peristiwa Perang Dingin ketika Amerika dan Uni Sovyet terlibat persaingan sengit hingga terlibat dalam beberapa perang proxi (perang tidak langsung) seperti di medan Perang Perang Korea, Perang Yom Kippur, Perang Vietnam dan Perang Anggola, Perang San Salvador dll, kedua pihak sepakat membentuk satu saluran telephon khusus dimana pemimpin tertinggi kedua negara bisa saling berkomunikasi langsung.

Maka menjadi sangat na'if, misalnya, jika kita mengambil kesimpulan bahwa Syria dan Israel sebagai sekutu yang melakukan sandiwara belaka dengan berpura-pura saling bermusuhan, hanya karena ada berita bahwa Syria dan Israel melakukan komunikasi tidak langsung dengan melalui pasukan penjaga perdamaian PBB di Golan. Kesimpulan seperti itu hanya diambil oleh orang-orang yang na'if, yang sangat jauh dari memahami politik apalagi sejarah. Dan sayangnya masih sangat banyak orang-orang seperti itu sehingga menjadi sasaran empuk media-media propaganda.

Kalau hanya melakukan komunikasi tidak langsung saja langsung dianggap sebagai "sekutu Israel", lalu bagaimana dengan Turki, Mesir dan Yordania yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, atau Saudi dan Qatar yang para pejabatnya sering bertemu langsung dengan pejabat-pejabat Israel? Bagaimana juga dengan Indonesia, yang para pejabatnya pun sering bertemu langsung meski secara diam-diam dengan pejabat Israel? Bukankah mereka lebih dari sekedar sekutu Israel?

Selama bertahun-tahun upaya zionis Israel dan sekutu dekatnya Amerika dan Inggris memasukkan Hizbollah ke dalam daftar organisasi teroris kandas oleh penolakan Perancis, karena Perancis menganggap hal itu akan mengganggu kepentingannya di Lebanon yang merupakan sekutu dekat dan bekas jajahan Perancis. Kekhawatiran Perancis sangat beralasan karena Hizbollah merupakan kelompok yang sangat berpengaruh di Lebanon, bahkan merupakan bagian dari pemerintahan Lebanon. Apakah karena hal ini kita akan mengambil kesimpulan bahwa Perancis merupakan sekutu Hizbollah, dan karenanya secara otomatis menjadi musuh Amerika?

Saya baru saja membaca berita di situs Detik Islam yang sepertinya adalah corong komunikasi kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), berjudul "Diam-diam, Amerika Berkerjasama Dengan Hizbullah untuk Melindungi Rezim Suriah". Dalam berita tersebut disebutkan bahwa inteligen Amerika memberikan informasi kepada pemerintah Lebanon tentang rencana serangan teroris kelompok Al Qaida di Lebanon yang salah satu sasarannya berada di wilayah yang dikontrol oleh Hizbollah. Karena Hizbollah merupakan bagian dari pemerintah, informasi tersebut tentu saja sampai ke Hizbollah, dan karenanya, demikian kesimpulan yang ditulis dalam berita itu, Amerika adalah sekutu Hizbollah.

KELOMPOK OPOSISI BARU, BERDIRI DI SAUDI

(SEORANG PANGERAN  MEMBELOT DARI KERAJAAN)

Sejumlah pemuda Saudi telah membentuk kelompok oposisi baru di Saudi Arabia dengan nama "Sejuta Saudi". Mereka mengklaim tujuan kelompok ini adalah membela hak-hak rakyat Saudi. Mereka juga mengklaim tidak berafiliasi dengan kelompok politik manapun.

Dalam pernyataan yang dibuatnya kelompok ini mengajukan berbagai tuntutan terhadap pemerintahan Saudi Arabia seperti pembebasan para tahanan politik, mereformasi kebijakan luar negeri terkait dengan hubungan dengan negara-negara penjajah, menutup operasi televisi al-Arabiya TV, menghentikan ekspor minyak ke Amerika, dan mengadili para pejabat yang korup meski mereka adalah anggota keluarga kerajaan.

Kelompok ini juga mengatakan akan mengadakan unjuk rasa damai pada suatu saat yang ditentukan, yang akan diumumkan melalui media jejaring sosial dan media-media elektronik.

Berdirinya kelompok ini merupakan bagian dari gerakan anti-pemerintah yang semakin marak di Saudi sejak November 2011, ketika pasukan keamanan menembakkan peluru tajam terhadap pengunjuk rasa di kota Qatif di Provinsi Timur, Saudi. Dalam peristiwa itu sebanyak 5 orang penunjuk rasa tewas dan sejumlah besar lainnya mengalami luka-luka.

Provinsi Timur adalah wilayah kaya minyak kerajaan Saudi Arabia yang dihuni mayoritas oleh warga Shiah. Namun penduduk merasakan adanya diskriminasi terhadap mereka sehingga mereka tertinggal di berbagai aspek kehidupan mereka terutama politik dan ekonomi.

Para aktifis sosial Saudi menyebutkan ada sekitar 30 tahanan politik di Saudi. Pada bulan Oktober 2012, Amnesty International mendesak pemerintah Saudi untuk menghentikan aksi-aksi kekerasan berlebihan terhadap aksi-aksi demonstrasi yang marak terjadi.

The Saudi authorities must end their repeated moves to stifle people’s attempts to protest against the widespread use of arbitrary detention in the country,” kata Philip Luther, Direktur Amnesty International untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dalam pernyataannya pada tgl 16 Oktober 2012 lalu.

The right of people to peaceful protest must be respected and the security forces must refrain from detaining or using excessive force against people who exercise it,” tambahnya.

PILIHAN RASIONAL YAHUDI ISRAEL: KEMBALI KE KHAZARIA ATAU HIDUP DAMAI (2)

Jika orang-orang yahudi tidak ingin tinggal bersama dalam damai dengan orang-orang Palestina, maka seharusnya mereka mencari tempat lain untuk hidup di luar Palestina, seperti wilayah otonomi yahudi di Oblast di timur jauh Rusia. Atau mereka bisa berpindah ke tempat asalnya di Khazaria.

Menurut sebuah laporan yang dirilis bulan Oktober 2003 oleh American Journal of Human Genetics, sebanyak 52% dari orang-orang yahudi ashkenazi memiliki DNA yang berasal dari Asia Tengah, bukan DNA semit yang berasal dari Timur Tengah. Laporan tersebut menyebutkan, kemungkin terbesar DNA tersebut diturunkan dari bangsa Khazar, bangsa keturunan campuran antara Turki dan Mongol, yang mendirikan kerajaan di antara Laut Hitam dan Kaspia pada abad 10 masehi. Mereka menyimpulkan hal itu karena DNA yang dimaksud, yang memiliki kode R1a1, biasa dimiliki oleh orang-orang Georgia Utara (bekas Uni Sovyet) dimana kerajaan Khazaria dahulu berdiri.

Sementara sejarah mencatat bahwa pada tahun 740 masehi seorang raja Khazaria bernama Bulan, berpindah keyakinan menjadi pemeluk agama yahudi. Hal itu membuat semua rakyat Khazaria mengikuti jejak pemimpinnya dengan menjadi penganut agama yahudi. (Inilah yang membuat industri perfilman Hollywood yang dikuasai orang-orang yahudi askhenazi pernah membuat film animasi tentang tokoh bernama "Bulan").

Itil, sebuah kota kecil yang terletak 40 kilometer sebelah kota Astrakhan, merupakan bekas ibukota kerajaan Khazaria antara abad 8 hingga 10 masehi. Dalam kitab "Saheefah" Imam Zainal Abidin (cicit Nabi Muhammad S.A.W, kesejahteraan untuknya) menyebut orang-orang Khazar sebagai "musuh di perbatasan".

Selain itu dalam buku yang terbit tahun 1976 berjudul "The Thirteenth Tribe", Arthur Koestler memaparkan sumber-sumber sejarah yang menyebutkan bahwa orang-orang yahudi ashkenazi adalah keturunan dari orang-orang Khazar.

Pada tahun 2012 Dr. Eran Elhaik, seorang ahli genetik populasi dari School of Public Health,  Johns Hopkins University, melakukan penelitian tentang DNA orang-orang Khazar dengan judul proyek "Khazar DNA Project". Hasil penelitiannya diluncurkan dalam laporan berjudul “The Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the Khazarian Hypotheses” yang diterbitkan secara online oleh jurnal Genome Biology and Evolution pada tgl 14 Desember 2012 dan diperbaharui tgl 16 Januari 2013. Dalam laporannya Dr. Elhaik menulis:

Alternatively, the ‘Khazarian Hypothesis’ suggests that Eastern European Jews descended from the Khazars, an amalgam of Turkic clans that settled the Caucasus in the early centuries CE and converted to Judaism in the 8th century… Our findings support the Khazarian hypothesis and portray the European Jewish genome as a mosaic of Near Eastern-Caucasus, European, and Semitic ancestries, thereby consolidating previous contradictory reports of Jewish ancestry.

Monday, 29 July 2013

DOMINASI YAHUDI MEREDUP DI EROPA, JUGA AMERIKA

Dominasi yahudi jahat penyembah berhala di segala aspek kehidupan manusia niscaya akan membuat orang "tercerahkan" akan menangis berputus asa. Sistem ekonomi dimana kita hidup yang diliputi oleh praktik ribawi, media massa dan hiburan yang kita tonton, hingga para politisi yang kita pilih, semuanya berada di bawah "kendali" mereka.

Namun semua itu ada batasnya. Saat kejatuhan tiba, semua aspek kehidupan akan menjadi musuh para yahudi jahat itu. Sebagaimana digambarkan oleh hadits Rosulullah Muhammad S.A.W yang menyebutkan bahwa suatu saat "batu dan pohon" pun akan memusuhi mereka. Atau dalam hadits lainnya tentang kematian Dajjal (anti-christ) di tangan Nabi Isa (Yesus), yang meleleh seperti lilin terkena api.

Dan tanda-tanda itu sebenarnya sudah tampak bertahun-tahun lalu. Dimulai dari tumbangnya regim Shah Pahlevi pro-zionis oleh gerakan Revolusi Islam Iran tahun 1979, terusirnya Israel dari Lebanon tahun 2000 dan kegagalan mereka menguasai kembali Lebanon tahun 2006, dan kegagalan menumbangkan pemerintahan Syria yang anti-Israel setelah Presiden Barak Obama secara mengejutkan berani menolak tekanan Israel untuk menyerang Syria dan Iran.

Sampai 10 tahun yang lalu orang-orang yahudi itu tidak akan segan untuk membunuh seorang presiden Amerika, sebagaimana mereka lakukan terhadap John F. Kennedy yang menurut Michael Collins Piper dalam bukunya Final Judgement disebabkan karena Kennedy menghalangi program nuklir Israel, atau Abraham Lincoln yang dibunuh karena bermaksud menerbitkan uang pemerintah dan meninggalkan uang kertas buatan bankir yahudi, atau terhadap 2 atau 3 presiden lainnya yang tewas dibunuh saat menjabat sebagai presiden Amerika. Namun dengan sebagian besar rakyat Amerika yang kini sadar bahwa "teori konspirasi" memang benar ada, mereka berfikir seribu kali untuk melakukannya lagi untuk tidak melihat fenomena "Arab Springs" bangkit di Amerika.

Ide tentang "membunuh Barack Obama" sama sekali bukan sekedar halusinasi. Pemilik dan penerbit koran Atlanta Jewish Times berdarah yahudi, Andrew Adler, secara terbuka bahkan menulis tentang ide tersebut di media miliknya. Menurut Adler, Israel seharusnya mengirimkan tim pembunuh Mossad untuk melakukannya. Alih-alih ditangkap dan dijatuhi hukuman mati karena kejahatan yang sangat serius itu, Adler hanya mengundurkan diri dari jabatan di koran miliknya.

Tentang penolakan Obama terhadap tekanan yahudi meski Obama merupakan antek mereka, Mark Glen dalam blognya yang terkenal, The Ugly Truth menyebutnya sebagai "pelacur yang menolak untuk bunuh diri". Obama tidak sendirian, jajaran militer di bawahnya adalah yang paling mengerti bahwa melibatkan di dalam perang di Syria atau terhadap Iran, setelah kegagalan menyakitkan di Afghanistan dan Irak, juga menganggap intervensi militer atas Syria dan Iran merupakan tindakan bunuh diri.

Dan "fenomena" penolakan terhadap dominasi yahudi kini tampak jelas di Eropa setelah beberapa negara menolak dengan tegas praktik jagal hewan cara yahudi  yang disebut "kosher".

"PEMBANTAIAN" MESIR PUN DIMULAI

Persis seperti yang dikhawatirkan banyak pihak, tindakan keras militer terhadap para pendukung Ikhwanul Muslimin telah dimulai dengan korban mencapai puluhan orang. Berbagai sumber menyebutkan pada hari Sabtu saja (27/7) jumlah korban tewas telah mencapai angka 150 orang. Wartawan The Guardian, Patrick Kingsley & Peter Beaumont dalam laporannya tgl 28 Juli dengan mengutip pernyataan Ikhwanul Muslimin menyebutkan bahwa korban tewas mencapai 66 tewas dan 61 orang lainnya mengalami luka serius, semuanya anggota Ikhwanul Muslimin.

Dalam peristiwa paling berdarah semenjak tergulingnya Presiden Husni Mubarak awal tahun 2011 lalu, jubir Ikhwnul Muslimin menyebutkan bahwa aparat keamanan Mesir pada hari Sabtu (27/7) telah "membantai" para anggota Ikhwanul Muslimin yang tengah melakukan unjuk rasa damai. Namun itu baru permulaan, karena diyakini militer telah bertekad untuk menghentikan seluruh aksi demonstrasi yang digelar Ikhwanul Muslimin, apapun akibatnya, setelah dukungan yang diberikan rakyat Mesir dianggap sudah cukup. Sebagaimana diketahui, pada hari Jum'at (26/7) ratusan ribu pendukung militer melakukan aksi unjuk rasa dukungan kepada militer untuk menghentikan "aksi-aksi kekerasan dan terorisme", kalimat tidak langsung untuk "aksi-aksi demonstrasi Ikhwanul Muslimin".

Angka kematian yang terjadi lebih besar daripada "pembantaian markas Pengawal Republik" tgl 8 Juli lalu ketika tentara menembaki para demonstran Ikhwanul Muslimin yang berusaha menyerbu markas pasukan Pengawal Republik yang diduga menjadi tempat penahanan mantan Presiden Mohammad Moersi yang dikudeta tgl 3 Juli lalu. Saat itu sebanyak 51 orang tewas.

Kematian-kematian tersebut diduga kuat diakibatkan oleh aksi aparat militer dan polisi, baik yang berseragam maupun tidak berseragam, yang menembakkan peluru tajam terhadap para anggota Ikhwanul Muslimin yang tengah melakukan aksi duduk di dekat masjid Rabaa al-Adawiya di kawasan Nasr City, dan di beberapa tampat lainnya di Kairo. Korban tewas juga terjadi di Alexandria dan beberapa kota lainnya di Mesir.

"Mereka tidak menembak untuk sekedar melukai, mereka menembak untuk membunuh. Kebanyakan luka tembakan ada di kepala dan dada," kata jubir Ikhwanul Muslimin Gehad el-Haddad. Korban tewas dan luka-luka dibawa ke rumahsakit darurat yang didirikan di dekat Masjid Rabaa, yang lantainya basah oleh darah para korban kekerasan.

Aksi kekerasan ini mengundang kecaman internasional, meski tidak satupun pemimpin dunia yang secara langsung menuduh militer maupun pemerintahan sementara Mesir sebagai penanggungjawabnya, termasuk sekutu Ikhwanul Muslimin yang juga Perdana Menteri Turki Tayyep Erdogan.

“Sekretaris Jenderal mengutuk keras munculnya kekerasan di Mesir yang telah menyebabkan sejumlah orang tewas dan ratusan luka-luka, menyusul protes pada Jumat dan Sabtu,” kata kantor pers sekjen PBB Ban Ki Moon, Sabtu (27/7).

“Saat ini adalah sebuah saat-saat menentukan untuk Mesir. Dua tahun lalu, sebuah revolusi dimulai. Keputusan akhirnya belum diperoleh, namun hasil revolusi itu akan sangat dipengaruhi apa yang terjadi hari ini,” kata Menlu Amerika John Kerry.

“Di Mesir, demokrasi dibantai, aspirasi nasional dibantai, dan sekarang bangsa sedang dibantai,” kata Tayyip Erdogan.

“Kini saatnya berdialog, bukan konfrontasi. Adalah tanggungjawab dari pimpinan kedua pihak untuk mengurangi ketegangan," kata menlu Inggris William Hague.

Sunday, 28 July 2013

PALESTINA PUJI PERAN IRAN

(PERJUANGAN MEMBEBASKAN PALESTINA TAKKAN PERNAH BERHENTI)


Dubes Palestina untuk Iran atas nama bangsa Palestina, menyampaikan pujiannya terhadap peran Iran dalam perjuangan pembebasan Palestina dari pendudukan Israel. Beliau juga menegaskan bahwa perjuangan untuk membebaskan  Palestina tidak akan pernah berhenti.

Berbicara dalam konperensi pers yang diselenggarkan di Teheran, Sabtu (27/7), Dubes Salah Zawawi menyatakan optimisme bangsa Palestina untuk bisa membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Tidak lupa beliau juga memuji peran Imam Khomeini, pemimpin tertinggi Iran yang berhasil memimpin Iran menggulingkan regim pro-zionis Shah Reza Pahlevi tahun 1979. Atas inisiatif Khomeini pada tahun 1979, setiap hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan umat Islam di seluruh dunia merayakannya sebagai Hari al Quds (Jerussalem).

Sang dubes menyebutkan bahwa Revolusi Islam Iran dan perjuangan pembebasan Palestina merupakan satu kesatuan yang saling terkait yang baru akan berakhir sampai Palestina berhasil dibebaskan.

Lebih jauh Zawawi mengatakan bahwa keputusan Majelis Umum PBB untuk meningkatkan status keanggotaan Palestina November tahun lalu merupakan kemenangan nyata bagi perjuangan Palestina.

Sebagaimana diketahui pada tgl 29 November 2012 Majelis Umum PBB meningkatkan status Palestina dari "entitas peninjau" menjadi "negara peninjau non-anggota", dari status "entitas" menjadi "negara" meski belum dianggap sebagai anggota penuh yang memiliki hak suara. Keputusan ini diambil di tengah upaya keras penentangan dari Amerika dan Israel.

Saturday, 27 July 2013

IKHWANUL MUSLIMIN MESIR MENGHITUNG HARI

Mengikuti seruan panglima militer Mesir Jendral al-Sisi untuk melakukan unjuk rasa mendukung langkah militer menghentikan aksi-aksi demonstrasi Ikhwanul Muslimin dan serangan teror di Sinai (Jendral Sisi menyebutnya sebagai "aksi-aksi kekerasans dan terorisme") ratusan ribu rakyat Mesir hari Jumat kemarin (26/7) berkumpul di Lapangan Tahrir. Ini merupakan tanda yang sangat jelas bagi militer untuk melakukan tindakan keras terhadap Ikwanul Muslimin, dan hari-hari keberadaan kelompok ini pun hampir dipastikan bisa dihitung dengan jari.

"Semua pemimpin Ikhwanul Muslimin harus ditangkap dan kami mendukung militer Mesir," kata seorang pengunjuk rasa di Lapangan Tahrir kepada wartawan yang mewawancarainya, sebagaimana ditayangkan NET TV hari Sabtu (27/7).

Unjuk rasa pendukung militer ini sendiri mendapat dukungan seluruh media massa Mesir dengan memberikan liputatan eksklusif peristiwa ini. Selain itu selain Gerakan Tamarod, Universitas Al Azhar yang berpengaruh dan Gereja Koptik juga menyerukan dukungannya terhadap aksi ini, menjadikan unjuk rasa tandingan yang dilakukan pendukung Ikhwanul Muslimin di Giza dan al-Nasr kurang memiliki dampak politis.

Kini beredar kabar militer telah memberikan ultimatum kepada Ikhwanul Muslimin untuk menghentikan aksi-aksi demonstrasinya, atau menghadapi aksi militer. Ultimatum tersebut dikeluarkan oleh Jendral Asisi hari Kamis (25/7) dan berlaku selama 24 jam, atau hari Sabtu ini (27/7).

"Kami tidak akan melakukan tindakan agresif, namun pasti akan melakukan tindakan tegas terhadap semua seruan untuk melakukan aksi kekerasan," kata seorang pejabat militer Mesir yang tidak bersedia disebutkan namanya, Jumat kemarin (26/7), terkait dengan ultimatum yang dikeluarkan Jendral al Sisi.

Kini kita hanya bisa berharap, Mohammad Moersi dan para pemimpin Ikhwanul Muslimin untuk bersikap realistis dengan menghentikan aksi-aksi demontrasi menentang kudeta dan menuntut pengembalian Moersi ke kursi kepresidenan, karena dipastikan militer akan melakukan aksi kekerasan untuk menghentikan mereka demi berjalannya pemerintahan sementara dukungan militer hingga terselenggaranya pemilu yang dipercepat.

Friday, 26 July 2013

PERMAINAN SELESAI, SYRIA

Koran berpengaruh Inggris, The Telegraph hari Selasa lalu (23/7) membuat laporan tentang berbondong-bondongnya pemberontak Syria meletakkan senjata untuk menerima tawaran amnesti yang ditawarkan pemerintah.

“Growing number of rebels are signing up to a negotiated amnesty offered by the Assad regime,” demikian tulis The Telegraph dalam laporan tersebut.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa "para pemberontak telah tertipu oleh pemberontakan" dan "kelelahan setelah lebih dari 2 tahun konflik". Lebih jauh laporan tersebut bahkan menyebutkan bahwa "para pemberontak merasa telah kalah perang".

Laporan seperti ini oleh satu media besar barat tentu tidak akan pernah terjadi satu atau dua bulan lalu ketika "harapan" untuk memenangkan pemberontakan masih ada. Tidak ada yang lain, kecuali barat memang telah merasa kalah dalam konflik yang didukungnya di Syria.

Memang demikian adanya. Pers barat, yang pada awal konflik Syria menggambarkan para pemberontak sebagai "pejuang demokrasi" atau "singa tauhid", secara menyolok mengubah pandangannya dengan menggambarkan mereka sebagai "teroris fanatik yang saling membunuh". Hal ini hanya satu tanda bahwa Amerika telah meninggalkan ide untuk menggulingkan Bashar al Assad dan tengah bersiap-siap memasuki perundingan Genewa II.

Padahal pada tgl 13 Juni lalu jubir National Security Council Amerika menyatakan bahwa regim Syria telah melanggar garis merah dengan menggunakan senjata kimia, sebagaiman tuduhan Perancis dan Inggris sebelumnya. Saat itu para analis telah memastikan bahwa perang akan semakin membesar dengan melibatkan Amerika dan NATO. Apalagi kemudian Amerika mengerahkan pasukan di perbatasan Yordania dan pangkalan komando pun diaktifkan di Izmir (Turki).

Sebulan kemudian media-media massa barat gencar memberitakan bahwa gerombolan pemberontak di Syria ternyata didominasi oleh para teroris yang dibenci oleh mayoritas rakyat Syria. Sementara di medan peperangan para pemberontak dari kelompok Free Syrian Army terlibat pertempuran sengit melawan Al-Nusra Front.

Selain itu, setelah Amerika "menurunkan" ancaman dari intervensi langsung menjadi pemberian senjata ke pemberontak (setelah para jendral Amerika yang realistis menolak), implementasi-nya pun tidak seperti yang diharapkan para pemberontak. Mereka dijanjikan dengan senjata anti-tank, namun ternyata hanya menerima mortar 120 mili. Mereka juga dijanjikan pesawat, namun ternyata hanya menerima Kalashnikov. Senjata-senjata itu memang datang dalam jumlah besar, namun tidak berguna menghadapi senjata berat regim Syria melainkan untuk para pemberontak saling membunuh hingga tidak ada lagi yang tersisa di antara mereka.

Dan inilah yang sebenarnya terjadi sebelum munculnya berita-berita tentang peletakan senjata besar-besaran para pemberontak: Direktur CIA John Brennan dan wapres Joe Biden, melakukan kesepakatan rahasia untuk tidak mengirim senjata mematikan ke pemberontak Syria. Sementara di London dan Paris, para pejabat dan politisi ramai-ramai menurunkan tensinya terhadap semangat memperkuat pemberontak.

MENGAPA MOERSI LAYAK DIKUDETA?

Bagi kebanyakan orang yang memandang "demokrasi" sebagai konsep ideal, peristiwa kudeta yang dialami presiden Mesir Mohammad Moersi merupakan satu kesalahan fatal yang tidak bisa diterima. Namun kebanyakan idealisme hanya ada di angan-angan dan realitas sangat jauh berbeda darinya. Maka pandangan yang paling aman menurut saya (blogger) adalah bersikap realistis tanpa meninggalkan sama sekali nilai-nilai ideal.

Dan marilah kita bersikap realistis. Bagi pendukung Moersi yang berasal dari kalangan Islam, meski konon Moersi adalah seorang penghafal Qur'an tidak ada jaminan baginya untuk tidak berbuat salah. Sheikh al Assir, ulama salafi-wahabi Lebanon terkenal yang kini buron karena melakukan makar, juga seorang penghafal Quran. Namun akhlaknya tidak berbeda jauh dengan preman jalanan dengan memukuli orang yang tak berdaya dengan popor senjata di muka umum (videonya beredar luas di youtube). Seorang ulama Saudi terkenal yang dipenjara karena menyiksa, memperkosa dan membunuh putri ciliknya, tentunya juga seorang panghafal Qur'an.

Apa yang dilakukan Moersi dan juga kelompok Ikhwanul Muslimin-nya di Mesir tidak ada hubungannya dengan Islam. Karena kalau mereka benar-benar Islam tentu akan mengikuti langkah pendahulu mereka Hasan al Banna yang mengirimkan pasukan mujahidin untuk membebaskan Palestina. Alih-alih Moersi justru mempertahankan hubungan diplomatik dengan Israel dan menutup pintu perbatasan dengan Gaza demi memenuhi perintah Israel dan Amerika yang memblokade Gaza. Juga kalau Moersi benar-benar memperjuangkan Islam, ia tidak akan "mengemis" IMF untuk memberikan pinjaman berbunga yang dilarang Islam.

Secara sekilas Moersi memang seorang pemimpin yang dipilih rakyat secara demokratis, namun fakta sebenarnya tidak seperti itu. Moersi hanya mendapat dukungan kurang dari 12 juta pemilih (17%) dari 70 juta penduduk Mesir yang berhak memilih. Dengan suara minim itu Moersi tampil sebagai pemenang karena 65% pemilih memilih tidak menggunakan haknya. Maka ketika pada tgl 30 Juni Gerakan Tamarod berhasil menggalang 22 juta tandatangan menentang pemerintahan Moersi, militer merasa berhak untuk mengkudeta Moersi dengan mengatasnamakan rakyat.

Dengan suara yang sebenarnya minim itu dan di tengah negara yang masih awam dalam demokrasi, semestinya Moersi "tahu diri" bahwa ia adalah presiden dari seluruh rakyat Mesir dan bukan presiden bagi kelompok Ikhwanul Musliminnya. Namun yang dilakukannya jauh dari hal itu. Dengan sangat agresif Moersi berusaha menjadikan Mesir sebagai negara Ikhwanul Muslimin. Ia melancarkan privatisasi di segala lini, termasuk hendak menjual Terusan Suez kepada perusahaan Qatar yang merupakan pendukung utama gerakan Ikhwanul Muslimin. Padahal dahulu Presiden Gamal Abdul Nasser mengangkat senjata ketika Inggris dan Perancis bermaksud menganeksasi terusan itu. Moersi mangangkat seorang mantan teroris yang bertanggungjawab terhadap aksi terorisme yang meneweaskan 60 turis asing di tahun 1997 sebagai gubernur Luxor yang merupakan kawasan wisata internasional. Moersi bahkan berusaha meng-Ikhwanul Muslimin-kan Universitas al Azhar.

Thursday, 25 July 2013

PUNCAK DARI SEGALA KRISIS YANG MENGHADANG MESIR

Apa yang akan dilakukan pemerintahan sementara Mesir untuk menghentikan krisis politik kekuasaan yang kini melanda. Jawabannya hanya satu: menghentikan aksi-aksi demonstrasi Ikhwanul Muslimin yang selama ini menjadi "pengganggu" jalannya pemerintahan.

Namun justru inilah masalahnya. Untuk menghentikan aksi-aksi protes Ikhwanul Muslimin diperlukan langkah ekstrem. Didahului dengan menumpas aksi protes ribuan pendukung Ikhwanul Muslimin dan diikuti dengan penangkapan besar-besaran para pemimpin Ikhwanul Muslimin. Dengan kata lain, pemerintahan sementara harus bertindak seperti regim diktator.

Dapat dipastikan tindakan diktatorial bisa menghentikan perlawanan Ikhwanul Muslimin. Namun tidak ada jaminan dampaknya tidak akan memukul balik pemerintahan sementara Mesir, saat kondisi politik sudah stabil dan Ikhwanul Muslimin muncul kembali sebagai kekuatan politik. Kecuali bila tindakan diktatorial itu mendapat dukungan rakyat yang bisa menjadi jaminan keamanan bagi para personil pemerintahan sementara. Dan hal inilah yang telah coba dilakukan oleh komandan militer yang juga menjadi wakil perdana menteri sekaligus menteri pertahanan Mesir, Jendral al Sisi.

Pada hari Rabu lalu (24/7) Jendral al Sisi menyerukan kepada rakyat Mesir untuk memberikan dukungan kepada militer untuk melakukan tindakan keras terhadap Ikhwanul Muslimin. Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk pawai besar-besaran yang akan dilaksanakan hari Jumat ini (26/7).

Tentu saja al Sisi tidak secara spesifik menyebut "Ikhwanul Muslimin", melainkan “kekerasan dan terorisme". Namun tidak ada yang bisa membantah, yang dimaksudkan adalah Ikhwanul Muslimin serta gerakan terorisme yang saat ini marak terjadi di Sinai.

"Hari Jumat nanti (26/7), seluruh rakyat Mesir yang terhormat harus turun ke jalan untuk memberi kami mandat dan perintah untuk menghentikan terorisme dan kekerasan," kata Jendral Abdel Fattah al-Sisi dalam pidato yang diucapkan pada acara wisuda taruna militer di Alexandria.

Seruan tersebut kontan mendapat tantangan dari Ikhwanul Muslimin. Pada hari yang sama dengan seruan tersebut, anggota senior Ikhwanul Muslimin, Essam El-Erian, menyebut al-Sisi “pemimpin kudeta yang membunuhi orang-orang perempuan, anak-anak dan orang-orang yang tengah berdoa". Ia menyebut seruan tersebut sebagai ancaman bagi Ikhwanul Muslimin. Namun ia tetap optimis, aksi-aksi Ikhwanul Muslimin tidak akan bisa dihentikan meski oleh tindakan militer.

GILAD ATZMON DAN "TERORIS" HIZBOLLAH

Setelah berkali-kali mengalami kegagalan, termasuk akibat penentangan militer Perancis yang khawatir dengan keamanan kepentingan Perancis di Lebanon, akhirnya Amerika berhasil menekan Uni Eropa untuk memasukkan Hizbollah sebagai organisasi "teroris". Mengabaikan fakta bahwa Hizbollah adalah organisasi politik yang tergabung dalam pemerintahan resmi Lebanon serta fakta bahwa dasar tuduhan yang digunakan, yaitu serangan bom di Bulgaria beberapa waktu lalu oleh pemerintah Bulgaria dianggap tidak ada kaitannya dengan Hizbollah.

Hal ini kontan membuat Gilad Atzmon, seorang pejuang anti-zionisme dan pembela hak-hak Palestina, geram. Kegeramannya tersebut dituangkannya dalam tulisan di blognya, gilad.co.uk dengan judul "Tzipi and the Guardian"

"Tukang intervensi Eni Eropa, yang bersama Amerika telah melakukan tindakan-tindakan teror di seluruh bagian dunia yang kaya dengan minyak dan mineral, kemarin memutuskan bahwa gerakan "Perlawanan" Lebanon yang berjuang menentang pendudukan, sebagai gerakana teror dengan menetapkan gerakan Shiah (Hizbollah) sebagai organisasi teror. Betapa menyedihkan!" demikian tulis Gilad Atzmon.

Tidak hanya itu, Gilad juga mengkritik The Guardian, salah satu media terkemuka Inggris, yang dianggap telah bertindak tidak fair dengan memberi kesempatan Tzipi Livni (mantan menlu Israel) mengkampanyekan program-program jahat Israel, khususnya terkait dengan keputusan Uni Eropa tersebut di atas:

"The Guardian, yang dahulu dianggap sebagai media yang terhormat, cukup berani untuk menangkap isu ini, namun alih-alih menampilkan sesuatu yang humanis dan intelek serta kritis, mereka berpura-pura menampilkan "impartial position". Kemarin mereka mempublikasikan debat antara penjahat perang Tzipi Livni dengan Sami Ramadani."

Gilad mengkritik pemberian tempat bagi Tzipi Livni (menlu Israel saat menyerang Gaza pada akhir tahun 2008 hingga awal 2009) dalam debat tersebut. Alasannya Israel bukan anggota Uni Eropa, selain pihak yang melakukan tekanan untuk memasukkan Hizbollah sebagai kelompok teroris. Gilad bahkan menuduh The Guardian sebagai "penjaga Israel".

Wednesday, 24 July 2013

PILIHAN RASIONAL YAHUDI ISRAEL: KEMBALI KE KHAZARIA ATAU HIDUP DAMAI

Dalam kitab Sahifah, Imam Zain al Abidin as-Sajjad (cicit Rosulullah, kesejahteraan untuknya) menyebutkan orang-orang Khazar sebagai musuh Islam di perbatasan. Kini bukti-bukti telah menunjukkan bahwa orang-orang yahudi Eropa, yang merupakan "ibu kandung" negara Israel, berasal dari Khazaria, satu wilayah yang terletak di sekitar Georgia di utara Laut Kaspia yang penduduknya memiliki darah campuran antara etnis Turki dan Mongolia.

Menurut Dr. Eran Elhaik, ahli genetika penduduk pada School of Public Health of Johns Hopkins University, "genome" dari orang-orang yahudi Eropa berasal dari Khazar. Pada sekitar tahun 740 masehi, raja Khazaria yang bernama Bulan berpindah keyakinan menjadi pemeluk agama yahudi dan sejak itu seluruh rakyat Khazaria menjadi penganut yahudi.

Dr. Elhaik menulis: “Pada akhir kekuasaan kerajaan (abad 13) sebagian besar penduduk yahudi-Khazaria berpindah ke Eropa Timur dan Tengah dan berasimilasi dengan penduduk asli."

Orang-orang yahudi Khazaria inilah yang kemudian dikenal sebagai yahudi ashkenazi, sebagai pembeda dengan beberapa sub-etnis yahudi lainnya seperti sephardin yang berasal dari Spanyol dan Eropa barat, marrano dari Italia, atau mizrahi yang berasal dari Arab, dan maghrebi yang berasal dari Afrika Utara. Selain itu masih ada sub-etnis yahudi lainnya yang berasal dari Ethiopia dan berkulit hitam yang disebut falasha.

Antara orang-orang yahudi ashknazi dan sephardin pernah terjadi persaingan sengit memperebutkan pengaruh dunia hingga memicu terjadinya berbagai peristiwa besar seperti Perang Krim, Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Yahudi sephardin merupakan campuran antara orang-orang yahudi dengan bangsawan Eropa Barat yang memiliki pengaruh kuat terutama di Inggris dan Perancis, sementara yahudi ashkenazi berpengaruh di Jerman. Untuk selengkapnya silakan baca di sini.

Sebagian besar warga Israel merupakan yahudi askhenazi berdarah khazaria, yang secara genetis dan historis telah menyimpang jauh dari yahudi asli keturunan Ibrahim. Menurut sebuah penelitian seorang ahli gineolog Israel, warga Palestina justru lebih dekat secara genetis dengan yahudi asli keturunan Ibrahim. Ada kemungkinan mereka adalah penduduk asli yahudi yang tidak melakukan diaspora paska penghancuran Kuil Solomon dan kota Jerussalem oleh pasukan Romawi tahun 70 masehi. Setelah pasukan Islam menduduki Palestina semasa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, mereka pun masuk Islam beramai-ramai setelah melihat bahwa Islam dan Nabi Muhammad S.A.W adalah agama dan nabi penutup jaman yang sesuai dengan nubuwat dalam kitab Perjanjian Lama.

Sebagian besar orang Israel menganggap warga muslim tidak tidak menginginkan  hidup damai dengan orang-orang yahudi. Anggapan ini keliru besar. Orang-orang Arab dan Palestina telah ratusan tahun menjalin hubungan erat dengan orang-orang yahudi. Namun mereka menganggap jika harus ada negara bagi orang-orang yahudi, tempatnya bukan di Palestina.

Warga Palestina siap hidup damai dengan orang-orang yahudi di Palestina sepanjang mereka memiliki hak-hak yang sama termasuk hak memilih yang saat ini tidak terdapat di Israel.

"PERLAWANAN" TIDAK MUNGKIN TERISOLIR

Gerakan dan semangat "Perlawanan" merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat Lebanon, karenanya tidak mungkin bisa diisolir dan setiap upaya untuk menghancurkannya akan mengalami kegagalan.

Demikian pernyataan yang disampaikan pemimpin Hizbollah Sayyed Nasrallah pada acara tahunan buka bersama bertema "Islamic Resistance Support Organization" yang digelar hari Jumat (19/7). Dalam kesempatan tersebut Nasrallah kembali mengajak semua kekuatan politik di Lebanon untuk berdialog mengenai strategi pertahanan nasional terhadap ancaman Israel serta menghormati eksistensi Tentara Nasional Lebanon.

Sayyed Nasrallah menyebut peran penting "Perlawanan Islam" selama beberapa tahun berselang, terutama setelah agresi Israel tahun 1993, 1996 dan tahun-tahun setelahnya, dalam meneguhkan kesepakatan bersama untuk melindungi rakyat Lebanon dan menjamin keseimbangan kekuatan dengan musuh.

Nasrallah menegaskan bahwa "Perlawanan" mampu untuk menangani semua kesulitan yang dihadapi, sementara musuh (Israel) terpaksa harus menata ulang strateginya setelah apa yang mereka alami dalam beberapa bulan berselang. Menurutnya dalam setiap kesempatan pertempuran mendatang, Israel akan lebih mengkhawatirkan keamanan wilayahnya sendiri sebelum berfikir menyerang musuh di luar.

"Dalam pertempuran-pertempuran mendatang mata musuh akan tertuju pada wilayah Galilee sebelum melihat Beirut… dan sejak saat ini tidak ada musuh yang bisa menyerang Lebanon tanpa harus membayar mahal."

Sebagai perbandingan dalam serangan Israel ke Lebanon tahun 1982 Israel dengan mudah menguasai sebagian besar wilayah Lebanon dan mengepung Beirut. Namun dalam perang tahun 2006 Israel harus menumpahkan darah ratusan tentaranya untuk memasuki beberapa ratus meter wilayah Lebanon sebelum akhirnya dipukul mundur sama sekali. Padahal pada tahun 1982 di Lebanon masih terdapat ribuan pasukan pejuang Palestina dan pasukan Syria selain tentara reguler Lebanon, sementara tahun 1982 Israel hanya berhadapan dengan Hizbollah dan milisi-milisi "Perlawanan" Lebanon dan tentara Lebanon menghindar dari pertempuran.

"Perlawanan, yang menang pada tahun 1982, 2000, dan 2006, mampu menghancurkan "rencana baru Timur Tengah" musuh, maka wajar kalau karenanya menjadi sasaran. Sebagai tambahan dari konfrontasi-konfrontasi  militer dengan musuh, kami telah menjadi sasaran di bidang militer, keamanan, budaya dan sosial. Ketika "Perlawanan" tidak lagi menjadi sasaran, ini berarti kita sudah tidak lagi menjadi kekuatan yang efektif dan musuh tidak lagi takut."

Monday, 22 July 2013

MILITER SYRIA TEWASKAN 6 PERWIRA TURKI DAN KOMANDAN PEMBERONTAK

Militer Syria menewaskan 6 perwira Turki yang membantu pemberontakan di Syria dalam serangan yang dilancarkan di Reef, kawasan di pinggiran kota Idlib di barat laut Syria, Jumat (19/7). Enam komandan pemberontak Free Syrian Army juga tewas dalam serangan tersebut.

Serangan yang dilancarkan militer Syria diarahkan terhadap kamp pemberontak di M’asaran, Ma’areh al-Naman, tempat berkumpulnya pasukan pemberontak dan para penasihat militer mereka dari Turki. Serangan tersebut juga diketahui telah menewaskan seorang wartawan Amerika yang berada di kamp tersebut. Salah seorang komandan pemberontak yang tewas diketahui sebagai Ahmad Asaf, komandan kelompok pemberontak bersenjata yang menamakan diri sebagai pasukan "Tameng Utara".

Tewasnya para personil militer Turki tersebut semakin membuktikan keterlibatan Turki dalam gerakan pemberontakan di Syria, satu tindakan yang dianggap sebagai campur tangan terhadap negara berdaulat. Namun belum ada pernyataan resmi baik dari pemerintah Syria maupun Turki.

Syria telah digoncang konflik berdarah sejak bulan Maret 2011 setelah pemberontak yang sebagian besar berasal dari luar negeri dukungan  Amerika dan negara-negara ZOG (zionist occupied goverment) mengangkat senjata melawan regim penguasa yang syah. Meski sebagian pemberontak menggunakan alasan "Islam" dan sebagian lainnya menggunakan alasan "demokrasi", tidak bisa dibantah lagi bahwa pemberontakan digerakkan oleh kekuatan zionis internasional yang tidak menyukai pemerintahan Syria yang menjadi pendukung gerakan "perlawanan" terhadap Israel dan menjadi penentang regim global yang didominasi Amerika. Akibat pemberontakan tersebut diperkirakan sekitar 100 ribu rakyat Syria tewas sebagai korban dan lebih dari sejuta lainnya menjadi pengungsi.

Pemberontakan sebenarnya sempat hampir pada pada akhir tahun 2011 setelah pemerintah Syria melaksanakan berbagai program reformasi, namun Amerika dan sekutu-sekutunya terus mengkobarkannya melalui pengiriman gerombolan-gerombolan bersenjata dari luar Syria ditambah kucuran dana dari Qatar dan Saudi Arabia.

Koran berpengaruh Amerika "Washington Post" pada bulan Mei tahun 2012 melaporkan bahwa pasukan-pasukan pemberontak telah mendapatkan suplai senjata modern dalam jumlah besar yang distribusinya dikoordinir oleh inteligen Amerika dan barat dan biayanya ditanggung negara-negara Teluk.

IRAN KUTUK SERANGAN ATAS MAKAM SAYIDA ZAINAB

"Sesungguhnya sebagian dari orang-orang di sekelilingmu, baik orang-orang badui di sekitar kota (Madinah) maupun juga penduduk kota (Madinah), sungguh keterlaluan dalam kemunafikan...." (QS At Taubah 101)

"Sesungguhnya kami berkehendak untuk mensucikan kalian wahai ahlul bait sesuci-sucinya" (QS Al Azhab 33)

 
Dalam konflik Syria terdapat satu fenomena yang menarik, yaitu kelompok-kelompok yang bertikai saling bertolak belakang sikapnya terhadap keberadaan makam-makam suci keluarga Rosulullah dan sahabat-sahabatnya yang sholeh. Di satu pihak berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjaga kesuciannya, namun pihak lainnya justru berusaha menghancurkannya. Ini menjadi bukti bahwa permusuhan orang-orang munafik (orang-orang yang mengaku Islam tapi sebenarnya membenci Islam, baik secara sadar maupun tidak) tidak pernah hilang hingga hari kiamat.

Beberapa waktu lalu media-media massa memberitakan aksi pemberontak Syria yang membongkar makam Hujur bin Adi, seorang sahabat Rosulullah yang merupakan salah seorang pendukung paling setia menantu dan sepupu Rosulullah, Ali bin Abi Thalib, dalam masalah perselisihan kepemimpinan umat Islam paska wafatnya Rosulullah S.A.W.

Namun yang dianggp sebagai masalah yang paling sensitif adalah keberadaan makam Sayida Zainab (AS), cucunda Rosulullah dan putri dari Ali bin Abi Thalib. Beliau termasuk dalam khalifah keluarga Rosulullah yang dipimpin oleh cucu Rosulullah Hussein (AS) yang dibantai di Karbala oleh regim Bani Umayyah. Setelah membunuh semua anggota khalifah laki-laki, termasuk yang masih bayi, kecuali cicit Rosul yang masih balita Sayyed Zain al Abidin (AS) yang sakit dan dalam perawatan Sayida Zainab, pasukan Umayyah menawan Sayida Zainab dan anggota khalifah perempuan lainnya. Beliau meninggal sebagai tawanan dan dikuburkan di pinggiran Damaskus. Sejak itu makamnya menjadi salah satu tempat yang paling dimuliakan umat Islam terutama orang-orang Shiah.

Oleh penganut Shiah, juga umat Islam lain yang benar-benar mencintai Rosulnya, makam ini sangat dihormati dan dimuliakan. Untuk itu mereka rela mempertaruhkan nyawanya untuk membela kehormatan makam ini. Sementara bagi para pemberontak, menguasai atau setidaknya merusak makam ini menjadi salah satu misi mereka sebagai simbol kemenangan. Sebaliknya bagi para penganut Shiah, kejatuhan makam ini ke tangan pemberontak dianggap sebagai awal dari bencana yang maha besar. Tidak heran jika makam ini telah berulangkali menjadi ajang pertempuran kedua pihak yang bertikai.

ULAMA SENIOR IRAN KECAM MOERSI

Saya (blogger) sebenarnya agak kurang nyaman dengan sikap resmi pemerintah dan media-media Iran yang cenderung pro-Moersi, padahal Moersi telah melakukan hal yang sangat tidak simpatik dengan menyerukan permusuhan antar kelompok Islam khususnya antara kaum Sunni dengan Shiah serta sikapnya yang tidak berubah terhadap konflik Palestina-Israel. Sampai saat ini saya masih tidak mengerti alasan tersebut dan hanya menduga bahwa hal itu dikarenakan selama berkuasa sikap resmi Moersi adalah sangat baik terhadap Iran. Sikap simpatik atas Moersi itu-lah yang menjadi salah satu alasan aparat keamanan Mesir menyerbu satu kantor televisi Iran di Mesir baru-baru ini.

Namun setidaknya saya cukup puas dengan adanya suara negatif yang diungkapkan seorang ulama senior Iran terhadap Moersi. Setidaknya hal itu menjadi pengingat bagi para penguasa Islam bahwa masih ada masalah mendasar yang dihadapi umat Islam se-dunia, yaitu Palestina.

"Moersi membantu Israel, menutup jalur yang menghubungkan Gaza dengan Sinai, menutup terowongan-terowongan penyuplai ke Gaza, mengakui perdamaian Camp David (dengan Israel), meneruskan suplai gas ke Israel, dan mempertahankan hubungan dekat dengan Israel," demikian kata Ayatollah Ahmad Jannati ulama terkemuka kota Teheran, dalam khotbah Jum'at (19/7).

Kebijakan Moersi tersebut, menurut Jannati telah menimbulkan ketidak puasan sebagian besar rakyat Mesir yang berujung pada penggulingan pemerintahan Moersi tgl 3 Juli lalu yang diikuti dengan ketidak stabilan sosial-politik di Mesir dengan berbagai aksi unjuk rasa berdarah yang dilakukan pada pendukung dan anti-Moersi.

"Situasi di Mesir sangat tidak mengenakkan. Kami berharap bahwa revolusi akan menghasilkan kebaikan bagi umat Islam, pemerintahan yang anti-Amerika akan terbentuk..... namun ternyata keliru," tambah Ayatollah Jannati.

Untuk mengakhiri ketidak-stabilan itu Ayatollah Janati menganjurkan agar pihak-pihak yang bertikai di Mesir untuk saling menyadari bahwa permasalahan dasar yang dihadapi rakyat Mesir adalah pemerintahan yang tidak aspiratif terhadap suara rakyat. Selanjutnya rakyat Mesir harus membentuk pemerintahan yang anti-Amerika.

Kembali ke belakang, pada awal tahun 2011 lalu rakyat Mesir berhasil melakukan revolusi terhadap regim Hoesni Mubarak yang pro-Amerika/Israel. Kala itu bisa dikatakan kelompok Ikhwanul Muslimin tidak melakukan peran apapun dan revolusi dimotori para pemuda dan tokoh-tokoh liberal. Namun setelah berhasil menjadi penguasa, pemerintahan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin Presiden Moersi justru mempertahankan kebijakan pro-Amerika/Israel dan mengesampingkan peran dan aspirasi pihak-pihak oposisi. Hal itulah yang menjadi pemicu munculnya gerakan penggulingan terhadap Moersi yang didukung militer.

Sunday, 21 July 2013

SIAPA YANG SEBENARNYA BERKUASA DI DUNIA? (2)

 Menurut sebuah artikel yang dimuat di majalah Newscientist, tentang sebuah studi terhadap lebih dari 40.000 perusahaan transnasional yang dilakukan oleh Institut Teknologi Federal Swiss di Zurich, ditemukan adanya satu kelompok inti dari bank-bank  besar dan perusahaan-perusahaan raksasa yang mendominasi sistem ekonomi di seluruh dunia. Studi itu menemukan kelompok inti itu terdiri dari hanya 147 perusahaan yang bahkan masih saling berkaitan kepemilikannya satu sama lain.

Sebagian besar perusahaan itu adalah bank-bank dan lembaga keuangan bukan bank. Berikut adalah daftar 25 perusahaan terbesar menurut studi tersebut.

1. Barclays plc
2. Capital Group Companies Inc
3. FMR Korporasi
4. AXA
5. State Street Corporation
6. JP Morgan Chase & Co
7. Hukum & General Group plc
8. Vanguard Group Inc
9. UBS AG
10. Merrill Lynch & Co Inc
11. Wellington Manajemen Co LLP
12. Deutsche Bank AG
13. Franklin Resources Inc
14. Credit Suisse Group
15. Walton Enterprises LLC
16. Bank of New York Mellon Corp
17. Natixis
18. Goldman Sachs Group Inc
19. T Rowe Price Group Inc
20. Legg Mason Inc
21. Morgan Stanley
22. Mitsubishi UFJ Financial Group Inc
23. Northern Trust Corporation
24. Société Générale
25. Bank of America Corporation

Para elit ultra-kaya sering bersembunyi di balik lapisan demi lapisan kepemilikan, tetapi kenyataannya adalah bahwa berkat hubungan kepemilikina yang saling terkait itu, elit global pada dasarnya mengontrol hampir seluruh perusahaan raksasa dunia. Jumlah kekayaan dan kekuasaan mereka sulit untuk digambarkan. Sayangnya, kelompok yang sama telah menjalani hal itu sejak masa yang sangat lama. Sebagaimana ditunjukkan oleh pidato yang menarik oleh Walikota New York John F. Hylan pada tahun 1922:

"Ancaman nyata dari Republik kita adalah pemerintah tak terlihat, yang seperti gurita raksasa dengan kaki-kaki berlendir membelit kota-kota, negara bagian, dan seluruh bangsa ini. Untuk tidak sekedar generalisasi belaka, saya katakan bahwa kepala dari gurita itu adalah kepentingan Rockefeller-Standar Oil dan sekelompok kecil bankir internasional. Mereka secara nyata mengendalikan pemerintah Amerika untuk tujuan mereka sendiri."

Mereka praktis mengontrol kedua partai Republik dan Demokrat, menulis platform politik, dan menentukan pejabat-pejabat tinggi yang sejalan dengan kepentingan bisnis korup mereka.

Mereka mengontrol mayoritas surat kabar dan majalah di negeri ini. Mereka menggunakan media-media itu untuk menekan pejabat-pejabat publik hingga menyerah pada kemauan mereka, atau mendepak mereka yang menolak kemauan mereka. Mereka beroperasi di balik layar yang diciptakan mereka dan menguasai semua pejabat publik, lembaga-lembaga legislatif, lembaga-lembaga pendidikan, pengadilan, dan semua lembaga yang dibuat untuk melindungi kepentingan publik.

Mereka menciptakan bank-bank sentral dan memanfaatkannya untuk menjebak pemerintahan negara-negara di dunia masuk dalam jeratan hutang yang tidak berujung. Hutang pemerintah adalah cara yang ampuh untuk merampok uang kita semua, mentransfernya ke pemerintah dan berakhir di kantong orang-orang super kaya."

Juga kecaman pedas yang dilakukan oleh anggota Kongres Louis T. McFadden yang disampaikan di hadapan sidang DPR AS pada tgl 10 Juni 1932:

"Bapak Ketua, di negara ini kita memiliki satu lembaga yang paling korup yang pernah dikenal di dunia. Saya merujuk kepada Bank Sentral (The Federal Reserve Bank) dan Dewan Gubernur Bank Sentral. Mereka telah menipu pemerintah dan seluruh rakyat Amerika untuk membayar hutang nasional yang tidak pernah bisa lunas. Mereka telah menghancurkan dan memiskinkan seluruh rakyat Amerika dan membangkrutkan pemerintah Amerika. Mereka melakukannya melalui aturan yang dibuat untuk memuluskan langkah mereka, melalui kejahatan administrasi yang dilakukan Dewan Gubernur, dan melalui praktik-praktik kotor manusia-manusia rakus yang mengawasinya."

SILAKAN MAJU, KAMI YANG MENGENDALIKAN

Saat menulis postingan ini saya baru saja menyaksikan tayangan acara "Kampung Ramadhan" yang disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi Global TV yang seperti kita ketahui bersama merupakan jaringan dari MNC Group milik Harry Tanoesudibyo. Global TV awalnya adalah milik ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan "konon" ditujukan untuk menjadi televisinya umat Islam Indonesia, namun nasibnya berakhir di tangan Harry Tanoe yang kita ketahui bersama sebagai seorang non-Islam, hampir sama halnya koran Republika yang jatuh ke tangan Eric Thohir yang tidak kita ketahui ke-Islamannya.

Dalam tayangan tersebut secara aneh saya melihat satu "menorah" berdiri di atas panggung yang megah. "Menorah" merupakan simbol paling kuat bagi kaum yahudi se-dunia, bahkan lebih "suci" dibanding simbol "bintang Daud". Berupa alat penerangan berbentuk lima atau enam sula (ujung) yang pada ujung-ujungnya dipasang lilin atau obor, simbol ini mulai digunakan setelah peristiwa pemberontakan Maccabea yang setiap tahunnya diperingati sebagai hari raya "Hanukah" yang jatuh setiap bulan Desember.

Saya tidak mengerti maksud produser acara tersebut menampilkan "menorah" di atas panggung acara bernuansa Islam. Namun karena Global TV adalah milik Harry Tanoe, pikiran saya langsung mengarah pada "kekuatan uang" yahudi internasional. Seperti kita ketahui kemunculan Harry Tanoe dalam panggung kekuasaan negeri ini sangat fenomenal. Dari seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya, tiba-tiba saja ia mencul sebagai penguasa salah satu group media terbesar di Asia Tenggara. Kini ia bahkan telah mengembangkan pengaruhnya dengan menjadi petinggi Partai Hanura dan telah ditetapkan sebagai kandidat wakil presiden Indonesia mendatang. Hal itu telah cukup bagi kita untuk mencurigai adanya pengaruh yahudi
internasional di balik sosok Harry Tanoe.

Namun bukan hanya Harry Tanoe yang kemunculannya menjadi fenomena di Indonesia akhir-akhir ini. Kita juga melihat fenomena Jokowi, yang hampir pasti berada di bawah bayang-bayang "kekuatan uang" yahudi internasional, terutama dengan simbol "el-diablo" atau "tanduk setan" yang diacung-acungkannya saat kampanye pemilihan gubernur DKI.

Selain di panggung politik, dunia hiburan juga diwarnai oleh fenomena yang sama. Ketika dua tahun lalu melihat Agnes Monica menjadi bintang iklan minuman energi "Mizone" dengan make up gaya "all seing eye" saya langsung menebak, kariernya bakal meroket, dan ternyata benar dugaan saya. Selain Agnes kita juga menyaksikan "Coboy Junior" yang kariernya juga meroket setelah para personilnya sering menampilkan simbol "tanduk setan". Tidak hanya itu, almarhum seorang ustad kondang yang baru meninggal ternyata juga pernah berpose mengacungkan simbol tanduk setan dan berpakaian gamis bersimbol bintang Daud (semoga Allah mengampuni kekhilafannya). Tidak hanya itu, putranya juga pernah berpose dengan simbol tanduk setan, dan kini, hanya beberapa hari setelah kematian ayahnya ia telah menjelma sebagai selebritis baru.

Tidak bermaksud sinis, tapi saya kurang suka dengan keterlibatan putra sang ustad dalam sinetron tak bermutu "Monyet Cantik", yang telah mengkait-kaitkan hal-hal tak rasional dengan Islam. Atau jandanya yang menjalani masa idah (berkabung) tapi terus-menerus muncul acting-nya di televisi, atau teman-teman dan keluarganya yang memanfaatkan kematiannya untuk mendapatkan proyek.

Saturday, 20 July 2013

TURKI SELUNDUPKAN SENJATA KE MESIR

Hubungan antara Turki dengan Mesir diperkirakan akan semakin memanas setelah aparat keamanan Mesir berhasil menggagalkan upaya penyelundupan senjata melalui kapal dagang Turki. Meski belum ada pernyataan resmi dari pemerintahan sementara Mesir, jika benar, penyelundupan tersebut merupakan bagian dari upaya pemberontakan para pendukung presiden terguling Mohammad Moersi terhadap regim penggantinya yang saat ini berkuasa.

Pada hari Rabu lalu (17/7) sumber-sumber di Mesir menyebutkan bahwa aparat keamanan telah menahan kapal dagang milik perusahaan Turki yang mengangkut 20 ribu pucuk pistol berperedam suara. Sehari kemudian pemerintah Turki mengumumkan telah membentuk tim penyidik atas kasus tersebut.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Kamis (18/7) kementrian luar negeri Turki menyatakan bahwa menlu Turki telah memerintahkan kedubes Turki di Mesir untuk melakukan penyelidikan atas insiden tersebut dan memberikan laporan kepada pemerintah pusat secepatnya.

"Demi melaksanakan penyelidikan yang diperlukan, informasi konkrit tentang senjata-senjata yang disebut-sebut telan ditahan tersebut telah dimintakan kepada otoritas Mesir melalui kedubes Turki di Kairo," demikian pernyataan kemenlu Turki.

Pernyataan tersebut menyebut bahwa Turki berkepentingan dengan "saudara Mesir" yang stabil dan damai.

IRAN PUJI KEMENANGAN HIZBOLLAH ATAS ISRAEL

Para pejabat tertinggi Iran beramai-ramai memberikan selamat atas kemenangan Hizbollah terhadap Israel pada peringatan HUT ke 7 Perang Lebanon II tahun 2006 yang digelar Hizbollah baru-baru ini.

Dalam pesan-pesan yang disampaikan secara terpisah kepada pemimpin Hizbollah Sayyed Hassan Nasrallah, Presiden Ahmadinejad, Ketua Parlemen Ali Larijani dan Menlu Ali Akbar Salehi memberikan selamat atas kemenangan Hizbollah atas Israel dalam perang yang berlangsung selama 33 hari antara bulan Juni dan Juli 2006. Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui dubes Iran untuk Lebanon Ghazanfar Roknabadi.

Dalam pesannya tersebut Ahmadinejad mengatakan bahwa kemenangan yang diperoleh Hizbollah merupakan karunia Tuhan yang diberikan berkat kepemimpinan yang bijaksana serta semangat para pejuang dan seluruh rakyat Lebanon.

“Perang 33 hari tidak bisa dibantah merupakan kemenangan paling gemilang dari semangat perjuangan rakyat Lebanon, dimana para pejuang berhasil menghancurkan impian regim penjajah (Israel),” kata Ahmadinejad dalam pesannya.

Ahmadinejad menambahkan bahwa kemenangan tersebut merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi seluruh manusia pencari kebenaran di seluruh dunia dan menjadi penghinaan bagi kekuatan arogan global.

Sementara itu dalam pesannya Larijani mengatakan bahwa kemenangan Hizbollah telah memberikan kebanggaan dan kejayaana bagi seluruh umat Islam serta seluruh negara merdeka di dunia. Ia juga menambahkan bahwa kemenangan Hizbollah atas regim zionis yang rasialis dan facsis akan membuka jalan bagi kehancuran Israel.

Friday, 19 July 2013

INDONESIA YG MAKIN CARUT MARUT

Berita utama di media-media massa kota Medan hari Kamis (18/7): pejabat PLN yang membawahi wilayah tempat Lembaga Pemasyarakatan Tanjunggusta dimutasi.

Sebagaimana kita ketahui penyebab tragedi LP Tanjunggusta yang menewaskan beberapa sipir dan narapidana beberapa hari lalu adalah karena matinya listrik selama beberapa jam. Adapun penyebab matinya listrik adalah karena LP Tanjunggusta menunggak pembayaran tagihan listrik.

Sekali lagi kita menyaksikan betapa carut-marutnya pengelolaan negeri ini sehingga sebuah lembaga milik negara tidak mampu membayar tagihan listrik sehingga memicu terjadinya tragedi yang semestinya tidak perlu terjadi jika pengelolaan keuangan negeri ini benar. Bukankah semestinya pemerintah memiliki sistem pembayaran antar lembaga negara yang baik yang mampu mengatasi masalah itu? Bukankah pemerintah memiliki aparat yang cukup, khususnya dari departemen keuangan, untuk menangani masalah-masalah kecil seperti pembayaran listrik sebuah lembaga pemasyarakatan, tanpa harus menimbulkan tragedi seperti di LP Tanjunggusta?

Kita mendengar seorang pejabat Kemenkumham mengatakan bahwa lembaganya memang mengalami kesulitan untuk membiayai operasional LP Tanjunggusta sehari-hari khususnya membayar tagihan listrik, karena "anggaran yang tidak cukup".

Macem apa pulak ni (sorry, logat Medannya keluar)? Sang presiden bisa membeli pesawat 800 miliar dan negara bisa mengalokasikan Rp21 triliun untuk biaya perjalanan dinas, namun untuk membayar listrik LP Tanjunggusta saja tidak mampu?

Demi Tuhan, regim orde baru masih lebih baik dalam menangani hal-hal sepele seperti ini. Setidaknya PLN tidak akan berani "kurang ajar" mematikan aliran listrik sembarangan, apalagi kepada sesama lembaga negara dan terlebih lagi terhadap sarana-sarana vital seperti bandara, atau melakukan pemadaman di bulan Ramadhan seperti sering terjadi di Medan saat ini, karena dipastikan sang direktur akan mendekam dalam penjara atau dicopot jabatannya dengan tidak hormat. Demi Tuhan regim Bashar al Assad di Syria, atau Khadaffi di Libya masih lebih baik dalam menangani hal-hal "cecere" seperti ini.

SIAPA YANG SEBENARNYA BERKUASA DI DUNIA?

To the point saja. Negara-negara di seluruh dunia saat ini menanggung hutang sebesar kira-kira $51 triliun, atau setara kira-kira Rp 500.000 triliun. Lalu kepada siapa negara-negara itu berhutang? Pertanyaan lain bisa diganti: siapa yang memiliki kekayaan sebesar itu?

Jika piutang adalah sebagian kecil saja dari seluruh aset atau kekayaan seseorang atau perusahaan atau lembaga, lalu kekayaan sebenarnya tentu jauh lebih besar dari jumlah itu, mungkin Rp 5 juta triliun atau bahkan jauh lebih besar lagi. Dan berapa pendapatan bunga dari piutang sebesar itu? Jika diasumsikan suku bunga pasar uang internasional adalah 5% (Indonesia mencapai 10% lebih), maka penghasilan dari bunga piutang itu mencapai Rp 25.000 triliun. Lalu, sekali lagi, siapa yang memiliki kekayaan sebesar itu? Bank Dunia atau IMF?

No way! IMF saja baru-baru ini kekurangan uang hingga harus minta pinjaman kepada pemerintah Indonesia sebesar $1 miliar. Keduanya hanyalah "makelar" bisnis hutang piutang antar negara dan hidup dari komisi dari setiap transaksi yang dihasilkan. Atau bank-bank dan lembaga keuangan internasional? Nah ini lebih mendekati meski masih terlalu jauh. Beberapa bank swasta terbesar dunia assetnya mencapai lebih dari $2 triliun atau sekitar Rp 20.000 triliun, jauh lebih besar dari semua perusahaan riel pembuat pesawat, mobil, atau makanan olahan.

(Sekedar gambaran, jika ada satu mesin uang yang bisa mencetak uang senilai Rp 1 miliar setiap detiknya, maka untuk mencetak uang senilai Rp 1 triliun mesin tersebut membutuhkan waktu 1.000 detik, atau setara 17 menit non-stop. Untuk mencetak Rp.1000 triliun membutuhkan waktu 17.000 menit atau setara 11,8 hari nonstop).

Lebih mendekati lagi adalah bank-bank sentral internasional seperti The Fed, Bank of England dll, atau bahkan mungkin termasuk Bank Indonesia.

Jadi kekayaan sebesar itu milik pemerintah juga dhong, khan bank sentral yang katanya miliki pemerintah?

Jika "hari gini" Anda masih mempercayai mitos itu, Anda termasuk dalam kelompok (ma'af) ignorant, atau kasarnya "moron" atau idiot. Bank-bank sentral itu milik swasta, bahkan jika bank-bank itu menggunakan nama seperti "Federal Reserve Bank", tidak beda dengan merek "Federal Express" atau sepeda "Federal". Di Amerika sendiri bank sentral merupakan "konsorsium" dari 12 bank-bank milik swasta di 12 wilayah.

Soal kepemilikan bank sentral ini telah membuat publik Amerika "gempar" akhir-akhir ini. Pemikiran bahwa kekuasaan pencetakan uang dan penetapan nilainya dilakukan oleh lembaga swasta tentu jauh dari pemikiran warga negara Amerika. Konstitusi Amerika bahkan menegaskan bahwa kekuasaan itu ada di tangan lembaga legislatif Congress. Kalau pun Congress mengalihkan kekuasaannya itu, lembaga yang paling tepat tentu saja adalah pemerintah yang dipimpin presiden yang dipilih rakyat, sehingga pengawasan dan pertanggungjawabannya pun menjadi jelas. Namun dengan adanya bank sentral yang dimiliki swasta, pemerintah harus "meminjam" uang kepada swasta dan membayarkan bunga dari tiap sen yang dipinjam untuk membiayai pembangunan dan belanja pemerintah. Selanjutnya, untuk membayar beban bunga dan cicilannya itu pemerintah harus membebani rakyat dengan pajak pendapatan dan lain-lain (pajak pendapatan ditetapkan hanya beberapa bulan setelah ditetapkannya UU bank sentral tahun 1913, sebelumnya tidak dikenal di Amerika). Saat ini beban hutang pemerintah Amerika telah mencapai $15 triliun dengan beban bunganya saja setiap tahun mencapai ratusan miliar dollar atau setara ribuan triliun rupiah.

Wednesday, 17 July 2013

BENARKAH SYRIA-IRAN-HIZBOLLAH BERSANDIWARA?


(SERANGAN ISRAEL ATAS SYRIA DILAKUKAN LEWAT TURKI)


Gambar: tank Israel yang dilumpuhkan oleh milisi Hizbollah dalam Perang Lebanon II tahun 2006)



Saya baru saja membaca sebuah artikel lama yang dimuat di situs hidayatullah.com berjudul "Topeng dan Slogan Perlawanan Makin Tersingkap" yang dipostingkan tgl 26 Mei 2013 lalu dan ditulis oleh kolumnisnya, Musthafa Luthfi.

Tulisan tersebut berusaha menggambarkan bahwa slogan "Perlawanan" yang diusung oleh kelompok-kelompok anti-Israel di Lebanon dan didukung oleh negara Iran dan Syria adalah kebohongan belaka untuk menyembunyikan hal sebenarnya tentang persekongkolan rahasia antara Israel dengan kelompok-kelompok "Perlawanan" tersebut.

Tentu saja tulisan tersebut mengandung kebenaran yang sangat lemah. Di satu sisi masih mengakui keberadaan kelompok-kelompok "Perlawanan" anti-Israel, namun di sisi lainnya justru menuduh kelompok-kelompok itu berkoalisi dengan Israel. Tulisan tersebut juga bertolak belakang dengan fakta yang sudah sangat jelas, yaitu pertikaian sengit antara kelompok-kelompok "Perlawanan" dengan Israel yang telah menelan ratusan nyawa, termasuk Perang Lebanon II tahun 2006 saat Hizbollah berhasil memukul mundur pasukan Israel dari Lebanon, atau saat Hizbollah berhasil mengusir Israel dari Lebanon Selatan tahun 2000.

Hal yang dijadikan alasan untuk menetapkan kesimpulan sesat itupun sangat lemah, yaitu "serangan udara Israel terhadap Syria bulan Mei lalu dan tidak adanya serangan balasan oleh Syria dan kelompok-kelompok "Perjuangan" sekutunya".

Kita semua mengetahui bahwa hingga saat ini masih ada wilayah-wilayah milik bangsa Arab yang diduduki Israel: Dataran Golan Syria, beberapa desa di Lebanon Selatan, Tepi Barat dan Jerussalem. Itu kalau yang dijadikan landasan hukum adalah perbatasan negara-negara Arab sebelum Perang Arab-Israel tahun 1967. Jika perbatasan yang digunakan adalah sebelum tahun 1948, maka seluruh wilayah Israel sekarang adalah wilayah Arab yang diduduki Israel.

Memang sebagian besar negara Arab telah "berkhianat" dengan memilih berdamai dengan Israel tanpa melihat pendudukan dan penjajahan dengan segala kekejamannya yang dilakukan Israel atas wilayah dan rakyat bangsa-bangsa Arab. Namun masih ada sebagian kelompok yang memilih terus berjuang untuk membebaskan wilayah-wilayah pendudukan tersebut yang tergabung dalam blok yang mengusung slogan "Perjuangan" yang secara efektif berisi beberapa unsur sbb: kelompok Hizbollah (Shiah Lebanon), kelompok Amal (Shiah Lebanon), kelompok Free Patriotic Movement (Kristen Lebanon), kelompok Marada (Kristen Lebanon), beberapa kelompok politik dan milisi Lebanon lainnya serta kelompok milisi Hamas dan Jihad Islam Palestina. Blok ini mendapat dukungan dari 2 negara, yaitu Iran dan Syria. Pada saat konflik Syria pecah, Hamas mundur dari blok ini demi meraih keuntungan dari Ikhwanul Muslimin yang muncul sebagai penguasa Mesir, namun tempatnya segera digantikan oleh sayap militer kelompok Fatah Palestina, yaitu Brigade al Quds.

Bagi seorang Islam, berdiam diri terhadap pendudukan Israel atas negeri-negeri saudara-saudaranya sesama muslim adalah sebuah kejahatan besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Apalagi jika bersikap negatif kepada mereka yang berjuang membela hak-haknya, seperti ditunjukkan oleh artikel di hidayatullah.com tersebut di atas.

Anehnya masih banyak orang Islam berpandangan sama dengan tulisan tersebut di atas dan justru menutup mata terhadap pengkhianatan beberapa negara-negara Islam yang kini justru bersekutu dengan Israel, termasuk Turki. Sebenarnya sudah terlalu terang benderang pengkhianatan tersebut, namun berita ini tetap menarik untuk diperhatikan.

ANTARA KONFLIK SYRIA DAN PERANG KHANDAK

Mengamati konflik Syria saat ini membuat pikiran saya terbang menembus dimensi waktu ke masa perjuangan Rosulullah Nabi Muhammad (S.A.W) dalam menegakkan Islam di tanah Arab 14 abad yang lalu, tepatnya pada saat terjadi Perang Khandak atau Perang Parit.

Setelah kalah dalam Perang Badar dan gagal menghancurkan kekuatan umat Islam dalam Perang Uhud, orang-orang musrik Quraisy Mekkah memutuskan untuk menghancurkan kekuatan umat Islam melalui pertempuran penghabisan. Untuk itu mereka mengajak semua sekutu mereka yaitu suku-suku Arab badui. Mereka juga mendapat dukungan dari orang-orang Yahudi yang banyak tinggal di sekitar Madinah, yang secara diam-diam selalu berusaha menghancurkan kekuatan umat Islam meskipun mereka terikat perjanjian damai dengan umat muslim.

Singkat kata, akhirnya kekuatan besar orang-orang musrik dari Mekkah pun bergerak mendekati Madinah yang dipertahankan oleh sekitar 3 ribu kaum muslim. Pasukan Mekkah sendiri berkekuatan sekitar 10 ribu pasukan, belum termasuk orang-orang badui dan orang-orang yahudi Madinah yang menunggu kesempatan untuk menikam punggung kaum muslim dari belakang.

Secara rasio kaum muslim tidak mungkin menang melawan kekuatan musuh yang jauh lebih besar. Untuk itu Rosulullah memilih strategi bertahan di belakang parit besar di sekeliling Madinah, yang dengan sangat berat digali oleh umat Islam. Namun, meski hal itu bisa menghambat serangan musuh, kaum muslim terpaksa harus tinggal dalam kepungan musuh dengan kondisi krisis pangan.

Beratnya kondisi tersebut diabadikan Allah dalam Al Qur'an:

"Ketika mereka (pasukan musrikin) datang, ketika itu mata manjadi kabur dan hati berdebar-debar sampai kerongkongan, dan kalian mempunyai berbagai sangkaan terhadap Allah! Di situlah kaum mukminin diuji dan digoncangkan dengan goncangan yang keras." (QS al-Ahzab: 10-11)

Dalam satu kesempatan sepasukan kaum musrikin yang dipimpin jagoan Quraisy, Amr bin Abdu-Wud, berhasil menerobos pertahanan kaum muslim. Ketika mereka sudah berhadap-hadapan dengan kaum muslim, Amr pun berteriak-teriak menantang kaum muslim untuk berperang tanding dengannya. Pada saat itu tidak ada satupun kaum muslim yang berani melawannya, kecuali Ali bin Abi Thalib. Maka akhirnya kedua jagoan tersebut berperang tanding dan disaksikan oleh kedua pasukan, dan Ali, sebagaimana dalam setiap pertempuran yang dilakukan umat Islam kala itu berhasil tampil sebagai pahlawan dengan membunuh Amr. Dan melihat jagoannya mati, kaum musrikin pun mundur meski tidak meninggalkan kepungannya.

Akhirnya, setelah berminggu-minggu berada dalam kepungan musuh yang menyesakkan dada, Allah pun memberikan pertolongannya. Pertolongan pertama berupa badai gurun pasir yang menghancurkan kemah-kemah pasukan musrikin. Adapun pertolongan berikutnya adalah munculnya prasangka buruk di antara pasukan sekutu musrikin yang menimbulkan saling ketidak-percayaan. Dan akhirnya kedua faktor itu mendorong pasukan musrik menarik diri dari medan perang dan kembali ke asalnya masing-masing tanpa membawa hasil. Sebaliknya bagi kaum muslim, mundurnya musuh menambah keimanan mereka akan kebenaran Islam.

Tuesday, 16 July 2013

MOERSI (JUGA ERDOGAN) HANYA MAINKAN PERAN ZIONIS

Ketika Mohammad Moersi, dan juga Tayyep Erdogan, berhasil meraih kekuasaan di dua negara Islam terbesar di Timur Tengah, yaitu Mesir dan Turki, keduanya memiliki kesempatan sangat berharga untuk menjadikan kedua negara sebagai kekuatan besar yang dihormati dan dicintai oleh seluruh penduduk Timur Tengah dan bahkan dunia Islam.

Kita melihat, misalnya, ketika Erdogan berani "menghardik" Presiden Israel dalam konperensi internasional di Davos Swiss karena serangan biadab Israel terhadap penduduk Palestina di Gaza akhir pada tahun 2008 dan awal tahun 2009, seluruh masyarakat Islam di seluruh dunia dan terutama di negara-negara Arab, langsung mengelu-elukannya sebagai pahlawan. Apalagi dengan keberhasilan Erdogan membangun negeri Turki, membuatnya menjadi idola di kalangan umat Islam di seluruh dunia.

Demikian juga dengan Moersi, atau setidaknya harapan besar umat Islam terhadapnya. Berhasil meraih kekuasaan melalui pemilu yang demokratis paska tergulingnya diktator antagonis Hoesni Mubarrak, ia menjadi harapan bagi jutaan umat Islam untuk bisa membangkitkan kebanggan umat Islam terutama bangsa-bangsa Arab.

Namun baik Moersi maupun Erdogan ternyata "mengkhianati" harapan umat Islam di seluruh dunia. Setelah delapan tahun berhasil membangun Turki, Erdogan menghancurkan reputasinya sendiri dalam sekejap setelah ia memerintahkan polisi melakukan tindakan keras terhadap sekelompok kecil demonstran damai yang menentang proyek pembangunan Lapangan Taksim yang diketahui merupakan proyek milik kroni-kroni Erdogan. Kini, tidak hanya reputasinya yang hancur di mata rakyatnya dan di mata bangsa-bangsa di dunia, kekuasaan Erdogan terancam oleh aksi-aksi demonstrasi yang berubah menjadi aksi-aksi menuntut pengunduran dirinya sebagai perdana menteri.

Lebih tragis lagi adalah Moersi, yang hanya bisa bertahan menjadi presiden Mesir selama setahun. Padahal yang harus dilakukannya sederhana saja: melakukan kompromi terhadap semua kekuatan politik sebagaimana hukum politik yang berlaku di seluruh dunia, apalagi dengan Mesir yang demokrasinya baru saja tumbuh. Namun ia menolak jalan itu dan lebih memilih jalan "antagonis" yang dibenci rakyat.

Lengsernya Moersi dan tergoncangnya kekuasaan Erdogan, yang keduanya merupakan tokoh gerakan Ikhwanul Muslimin, menurut Presiden Syria Bashar al Assad merupakan bukti kegagalan dari apa yang disebutnya sebagai "politik Islam". Maksudnya adalah politik yang menggunakan simbol-simbol Islam untuk meraih kekuasaan, namun pada dasarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam.

Melihat apa yang terjadi di Mesir dan Turki, memang sulit untuk menolak klaim Bashar al Assad. Bagi saya (blogger) sendiri Moersi, Erdogan dan Ikhwanul Muslimin-nya hanyalah pion yang dimainkan oleh para zionis penyembah berhala penguasa dunia yang berkuasa di balik layar.

(Jangan sinis dulu dengan "teori konspirasi" ini. Sebuah studi yang digelar University of Kent dan dipublikasikan tgl 8 Juli lalu berjudul "What about Building 7? A social psychological study of online discussion of 9/11 conspiracy theories” mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk Amerika dan Inggris kini percaya dengan adanya "teori konspirasi" dan mereka yang menolak adanya "teori konspirasi". Studi tersebut juga menyebutkan bahwa orang-orang yang menolak "teori konspirasi" di tengah-tengah bukti-bukti rasional yang melimpah tentang hal itu cenderung menjadi defensif, emosional dan mengalami kecenderungan masalah kejiwaan. Jadi jika Anda masih ingin dianggap waras, percayalah pada "teori konspirasi").

Saturday, 13 July 2013

PERANG RAHASIA SYRIA-ISRAEL YG MAKIN INTENSIF

Sebuah serangan menimpa barak militer angkatan laut Syria di Safira, dekat pelabuhan Latakia, minggu lalu. Serangan tersebut diduga telah menghancurkan rudal-rudal anti-kapal buatan Rusia "Yakhont" yang baru disimpan di barak tersebut.

Peristiwa tersebut tidak muncul di media-media massa umum, apalagi media massa milik pemerintah Syria, melainkan melalui jubir pemberontak Syria Free Syria Army Qassem Saadeddine, Selasa (9/7) kepada kantor berita Inggris Reuters. Saadeddine secara terang-terangan menyebutkan Israel sebagai pelakunya.

"Ini bukanlah serangan yang dilakukan Free Syria Army. Ini bukan jenis serangan yang dilakukan pemberontak. Serangan ini, jika tidak dilakukan dengan pesawat pembom, dilakukan menggunakan rudal jarak jauh yang ditembakkan dari kapal perang di Laut Tengah," kata Qassem.

Qassem Saadeddine menggambarkan besarnya ledakan yang terjadi, yang tidak mungkin disebabkan oleh senjata milik pemberontak, melainkan oleh senjata Israel.

Baik pemerintah Syria maupun Israel tidak mengeluarkan pernyataan apapun atas peristiwa ini, karena keduanya memang tengah terlibat dalam perang rahasia. Hanya saja saat ini perang ini semakin intensif saja.

Menurut berbagai laporan inteligen, Israel telah melakukan setidaknya 3 kali serangan terhadap Syria tahun ini. Meski tidak secara tegas mengakui serangan-serangan tersebut Israel mengklaim hal itu dilakukan untuk mencegah pengiriman senjata-senjata canggih Syria kepada Hizbollah. Hizbollah sendiri, paska kemenangan perang Al Qusayr bulan Juni lalu, mengklaim telah memiliki senjata "pengubah permainan" dari Syria dan siap berperang untuk membebaskan Dataran Golan bersama Syria. Di antara senjata-senjata canggih tersebut, diduga kuat adalah rudal "Yakhont".

Dalam perang melawan Israel tahun 2006 lalu gerilyawan Hizbollah untuk pertama kalinya berhasil menembak kapal perang Israel. Meski tidak menenggelamkannya, serangan tersebut membuat kerusakan hebat dan menewaskan beberapa pelaut Israel, dan menjadi pertimbangan serius bagi Israel untuk menghentikan perang. Diduga kuat serangan tersebut menggunakan rudal yang kekuatannya lebih rendah dibanding "Yakhont".

RUDAL-RUDAL IRAN SEGERA MENCAPAI AMERIKA

Iran pada tahun 2015 diyakini akan mampu membuat rudal-rudal ballistik antar benua yang bisa mencapai Amerika. Demikian laporan yang dikeluarkan inteligen Amerika hari Jumat lalu (12/7).

Menurut laporan berjudul "The Foreign Ballistic and Cruise Missile Threat Assessment" yang dibuat oleh "National Air and Space Intelligence Center" tersebut, sejak tahun 2008, Iran telah melakukan serangkaian ujicoba yang sukses meluncurkan roket dua tingkat "Safir" dan roket dua tingkat yang lebih besar Simorgh SLV", yang bisa menjadi dasar pembangunan roket ballistik jarak jauh antar benua (ICBM = inter continental ballistic missile).

Lebih jauh laporan tersebut menyebutkan bahwa sejak tahun 2010 telah berhasil meluncurkan program roket ballistik jarah dekat Qiam-1 SRBM dan roket generasi ke-empat Fateh-110 SRBM, serta mengklaim telah memproduksi massal rudal-rudal ballistik anti-kapal, satu jenis senjata yang tidak dimiliki negara lain kecuali China. Iran juga telah berhasil memodifikasi rudal jarak menengah Shahab 3 menjadi lebih jauh jangkauan dan akurasinya. Selain itu Iran juga berhasil menguji coba rudal jarak menengah berbahan bakar padat Sejjil.

DOKUMEN RAHASIA MORSI-OBAMA DITEMUKAN

Militer Mesir dikabarkan telah menyita dokumen rahasia yang berisi kesepakaatn antara Presiden Mesir Mohammad Moersi dan Presiden Amerika Barrack Obama untuk menyerahkan sebagian wilayah Mesir bagi kelompok pejuang Palestina, Hamas. Jika benar, maka Moersi bakal terancam mendapatkan hukuman berat sebagai pengkhianat.
  
Terkait dengan hal itu dikabarkan juga bahwa Kongres Amerika telah menuntut Presiden Obama untuk meminta kembali bantuan Amerika Serikat kepada Ikhwanul Muslimin (IM) senilai $8 miliar yang diterima Khairat Syathir, Wakil Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin Mesir, sebagai ganti pelepasan wilayah Mesir untuk warga Palestina yang berafiliasi kepada Hamas. Saat Khairat Syatir dan petinggi IM tak lagi berkuasa, Obama berada pada situasai yang dilematis karena kesepakatan tersebut yang tidak tuntas. Inilah sikap Obama yang menjadi penyebab utama kemurkaan para anggota Kongres.

Sebagaimana diberitakan media Mesir Elfagr, dokumen kesepakatan itu telah ditandatangani oleh Muhammad Moersi, Khairat Syathir, dan Isham Haddad yang merupakan Penasehat Presiden Moersi untuk urusan luar negeri.

Beberapa saat kemudian, militer Mesir berhasil mendapatkan dokumen ini dan menyimpannya guna diteliti dan nantinya akan diumumkan secara jelas. Pemerintah Amerika Serikat sedang melobi pihak militer Mesir untuk meminta kembali dokumen tersebut dengan ganti Amerika akan mengakui legalitas kudeta terhadap Mursi. Namun militer bersikeras untuk mengumumkannya pada masyarakat Mesir secara jelas.

FAKTOR SYRIA DALAM KUDETA MESIR (2)

Di negara seperti Mesir sekarang ini, satu kudeta militer tidak bisa dianggap sebagai hal yang "sepele". Kudeta yang terjadi tentu disebabkan oleh hal-hal yang prinsipil, dan dalam hal ini militer Mesir telah melakukan tindakan pencegahan "penghancuran" negara yang dilakukan Moersi dan orang-orang di sekelilingnya.

Mesir adalah negara pluralis, religius sekaligus nasionalis dan liberal. Ketika Moersi menggiring Mesir menjadi negara "Islam fundamentalis", hal itu seperti menggergaji pohon di pangkalnya.

Para oposan Moersi sebenarnya telah cukup bersabar dengan mengajak berdialog Moersi tentang pembagian kekuasaan dan bentuk negara yang ideal bagi Mesir yang melingkupi semua etnis dan golongan. Namun, sebagaimana dituturkan oleh Abdurrahman al Qardhawi dalam suratnya kepada sang ayah, Yusuf Qardhawi, Moersi yang merasa kuat dengan Ikhwanul Musliminnya, menganggap enteng aspirasi oposisi dan dengan gampang mengabaikan suara-suara mereka. Namun yang membuat militer melakukan kudeta adalah ketika Moersi mulai menyerukan retorika "perang" terhadap Ethiopia dan Syria dan memicu perselisihan Sunni-Shiah.

Salah satu oposisi, Gerakan 6 April (Democratic Front) menganggap Moersi sebagai "boneka" kampanye Amerika atas Syria. Dalam salah satu pernyataannya kelompok ini menyebutkan:

"Keputusan membuka pintu jihad ke Syria datang dari para sheikh salafi dukungan Amerika."

Sementara Gerakan Tamarod (organiser petisi anti-Moersi yang pada tgl 30 Juni berhasil menggalang 22 juta tandatangan dan menjadi pintu bagi kudeta militer, digerakkan oleh para pemuda) menuduh Moersi, "pidato-pidato Moersi membuka fakta bahwa masalah Syria telah diserahkan dari Qatar ke Saudi dan Mesir dan bahwa Moersi menjawab semua instruksi Amerika."

Bukannya merangkul oposisi dari kalangan nasionalis, sosialis maupun liberal, Moersi justru menabuh genderang perang terhadap mereka dengan merangkul kelompok-kelompok ekstremis Islam. Rapat besar tgl 15 Juni yang dihadiri Moersi didukung oleh kelompok-kelompok salafi dan Ikhwanul Muslimin sendiri. Pendukung lainnya adalah kelompok Gerakan Gama Islamiya.

Thursday, 11 July 2013

FAKTOR SYRIA DALAM KUDETA MESIR

"Kombinasi dari rencana agresif atas Syria, bersama dengan upaya pendukung-pendukung presiden melibatkan konflik dengan Ethiopia, ditambah aksi-aksi demonstrasi anti-Moersi besar-besaran yang diorganisir oleh National Salvation Front dan Tamarod Movement, meyakinkan militer bahwa Moersi yang tidak kompeten, yang telah menghancurkan popularitasnya dengan mengemis bantuan kepada IMF bulan November lalu, membawa resiko yang tidak bisa ditoleransi bagi Mesir.”

Demikian kesimpulan yang didapatkan oleh Webster G. Tarpley dalam artikelnya "Morsi ousted to stop plan for sending Egypt military to attack Syria’s Assad" yang dimuat di Press TV tgl 9 Juli lalu.

Menurut laporan media paling berpengaruh Amerika The Washington Post baru-baru ini kemarahan militer terhadap Moersi memuncak bulan Juni lalu ketika Moersi secara berurutan mengeluarkan retorika agaresif terhadap Ethiopia dan Syria. Para pejabat militer Mesir yang tidak disebutkan identitasnya menyebutkan bahwa tentara merasa khawatir jika Moersi memerintahkan perang melawan Ethiopia dan terlebih terhadap Syria.

Seruan Moersi untuk melakukan "jihad" ke Syria muncul hanya tiga hari setelah menlu Amerika John Kerry, dalam pertemuan Principals’ Committee of the US Government mewacanakan serangan udara terhadap Syria, yang hasilnya adalah keputusan untuk mempersenjatai pemberontak. Oleh para analis kedua peristiwa tersebut disimpulkan bahwa Moersi telah terlibat dalam skenario Amerika atas Syria.

Puncaknya terjadi pada tgl 15 Juni ketika Moersi memutuskan hubungan diplomatik Mesir dengan Syria.

Berbicara di hadapan ribuan anggota kelompok ekstremis Islam di stadion indoor Kairo, Moersi mengumumkan: “Kita telah memutuskan untuk menutup kedubes Syria di Kairo. Duta besar Mesir di Syria juga akan ditarik. Rakyat Mesir dan tentaranya tidak akan meninggalkan rakyat Syria hingga hak-hak mereka dipenuhi dan pemimpin baru (Syria) terpilih."

Bagi sebagian besar rakyat Mesir, terutama militernya, Syria adalah "saudara yang sangat dekat". Mesir dan Syria pernah menyatukan diri menjadi satu negara United Arab Republic antara tahun 1958 hingga 1961. Mereka telah bahu-membahu melawan agresi Israel dalam berbagai peperangan. Selama berpuluh tahun mereka dipimpin oleh pemerintahan yang sama-sama berpaham sosialis nasionalis Arab.

Dalam kesempatan itu Moersi mendesak NATO untuk menerapkan "no-fly zone" yang implikasinya adalah pemboman besar-besaran terhadap Syria yang membawa kehancuran besar bagi negara Syria, termasuk membunuh ribuan penduduknya, sebagaimana telah dialami Irak dan Libya. Namun di kesempatan berikutnya ia justru mengecam "campur tangan asing", meski yang dikecamnya adalah Hizbollah. Lebih jauh Moersi, dan para pembicara lain dalam acara tersebut, bahkan menyerukan sentimen anti-Shiah, satu kelompok mazhab yang jumlahnya cukup signifikan di Timur Tengah dan telah memiliki akar sejarah yang kuat di negara-negara Arab, termasuk mendirikan kota Kairo dan Universitas Al Azhar di Mesir. Selang tiga hari setelah seruan tersebut, massa ekstremis Sunni membantai seorang ulama besar Shiah Mesir dan beberapa pembantunya.

REVOLUSI INGGRIS YANG SESUNGGUHNYA

Antara abad ke-11 hingga 13 para elit yahudi berhasil menancapkan kekuasaan yang nyaris mutlak di seluruh Eropa dengan menggunakan satu sekte agama bentukan mereka, Ksatria Templar. Dengan kekayaan yang didapatkannya dari penjarahan di Jerussalem setelah mendompleng ekspedisi Perang Salib, mereka berhasil mempengaruhi Sri Paus untuk menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada mereka, yaitu hak kepemilikan tanah di sebagian besar Eropa. Namun mereka belum menguasai sepenuhnya kekuasaan para raja dan bangsawan. Maka ketika Raja Perancis merasa bosan berada di bawah kekuasaan para Templar dan harus membayar pajak tanah setiap tahun kepada mereka, ia pun memberontak. Aksinya mendapat dukungan para raja dan bangsawan Eropa sehingga dengan relatif mudah berhasil menumbangkan kekuasaan para Templar. Sebaliknya bagi para Templar, mereka menjadi korban pembantaian dan yang selamat menjadi buronan dimana-mana.

Maka untuk selanjutnya para elit yahudi itu, setelah menguasai sumber-sumber kekayaan, memusatkan perhatian pada pengambil-alihan kekuasaan secara sistematis dan menyeluruh yang selanjutnya disebut sebagai revolusi yang sekaligus menghancurkan 2 kekuatan penghalang mereka: raja-raja bangsawan dan gereja. Dan percobaan pertama yang ternyata sukses, adalah di Inggris. Terlepas dari itu, pilihan Inggris sebagai sasaran pertama adalah dendam karena raja Inggris telah mengusir orang-orang yahudi pada tahun 1290.

Revolusi Inggris (biasa disebut Perang Sipil Inggris) terjadi pada pertengahan abad 17 yang ditandai dengan satu peristiwa tragis, yaitu dihukum matinya Raja Charles I. Karena keberhasilannya, revolusi ini kemudian menjadi model dari beberapa revolusi sejenis yang melanda seluruh daratan Eropa dengan satu tujuan: menumbangkan kekuasaan raja-raja aristokrat dengan pemimpin-pemimpin tiran yang merupakan boneka para elit penguasa yahudi.   

"Adalah sudah menjadi ketentuan takdir bahwa Inggris harus menjalani revolusi pertama dari berbagai revolusi yang belum selesai hingga saat ini.”

Itu adalah kalimat yang tertulis pada buku “Life of Charles I” tulisan Isaac Disraeli yang diterbitkan pertama kali tahun 1851. Isacc adalah ayah dari Benjamin Disraeli, anggota parlemen pertama dan perdana menteri pertama Inggris yang berdarah yahudi. Ia berhasil menulis karya yang sangat mengagumkan dengan detil yang sangat lengkap tentang satu peristiwa paling besar yang pernah terjadi di Inggris. Disraeli mengaku tulisannya berdasarkan bahan-bahan yang dikumpulkan oleh Melchior de Salom, duta besar Perancis untuk Inggris selama terjadinya revolusi.

Revolusi Inggris dibuka dengan gambaran tentang kerajaan Inggris sebagai negara kesatuan antara raja, gereja, negara, para bangsawan dan rakyat yang disatukan oleh tradisi kekristenan yang kuat. Di sisi lain mulai muncul gerakan baru bernama Calvinisme yang pertama kali dimunculkan oleh warga negara Swiss bernama Calvin (dalam bahasa Perancis dieja sebagai Cauin, kemungkinan berasal dari nama asli Cohen yang berarti juga orang yahudi).

Calvin adalah salah seorang tokoh satu gerakan yang oleh buku-buku sejarah disebut sebagai “Reformasi” (saya lebih suka menyebutnya sebagai gerakan “Destruksi” berdasarkan motif di belakangnya yang saya ketahui) yang bertujuan “memurnikan” ajaran Kristen. Dalam upayanya itu Calvin mengorganisir sejumlah besar orator yang bertugas menciptakan perselisihan di tengah-tengah masyarakat tentang berbagai isu agama, tidak terkecuali di negeri Inggris Raya yang mencakup juga Irlandia dan Skotlandia.

Isu perbedaan yang mereka ciptakan adalah kesucian hari Sabbath, hari suci kaum yahudi yang jatuh setiap hari Sabtu dimana kaum yahudi dilarang untuk melakukan aktifitas. Sebagian rakyat Inggris yang taat pada keyakinan Kristen (puritan) percaya dengan keyakinan yang juga tercantum dalam kita Injil itu. Namun sebagian lainnya yang “moderat” menolaknya. Maka rakyat Inggris-un terbelah secara tajam oleh satu isu yang sebelumnya tidak pernah menjadi persoalan, yaitu hari Sabbath. Kelompok pertama yang terdiri dari kaum puritan berdiri di belakang sebagian anggota parlemen yang dipimpin oleh Oliver Cromwell, sedang kelompok kedua berdiri di belakang para bangsawan yang dipimpin oleh Raja Charles I.

Perlemen yang tadinya selalu menuruti semua perintah raja sebagai pengemban kekuasaan tertinggi, mulai berani menentang kebijakan-kebijakan raja seperti pernikahannya dengan Henrietta Maria dari Perancis, pemungutan pajak untuk membiayai perang di daratan Eropa serta pengangkatan George Villiers sebagai panglima perang. Tidak berhenti di situ, pada tahun 1627 parlemen bahkan berani meng-impeach raja, satu preseden awal sepanjang sejarah.

Tokoh-tokoh penting pendukung raja yang disebut juga sebagai kaum “royalis” adalah Buckingham, Strafford dan Laud. Buckingham, adalah sahabat raja terdahulu James I, terbunuh oleh satu konspirasi misterius. Earl of Strafford, seorang bangsawan yang awalnya adalah pendukung oposisi akhirnya bergabung ke kubu pendukung raja setelah menyadari motif jahat di belakang kaum oposisi.

Dari waktu ke waktu permusuhan parlemen semakin kuat terhadap raja. Pada satu saat mereka bahkan menghukum mati Earl of Strafford dengan tuduhan peng¬khia¬natan. Raja pun menyebut mereka sebagai “musuh” dengan pimpinan yang dilihatnya adalah Earl of Bedford. Earl of Bedford adalah keturunan dari seorang yahudi pedagang anggur bernama Roussel.