Tuesday, 10 January 2017

Pizzagate, Fakta Mengerikan yang Disembunyikan

Indonesian Free Press -- Untuk memahami sisi gelap skandal Pizzagate kita harus memahami sisi gelap orang-orang yahudi, orang-orang yang sama yang banyak terlibat dalam skandal Pizzagate.

Pada masa 'pencerahan' Eropa atau sekitar abad 15, sastrawan besar Inggris Shakespeare menulis salah satu drama yang sangat terkenal hingga saat ini, yaitu 'Saudagar dari Venesia'. Dalam drama tersebut dikisahkan tentang seorang rentenir yahudi di Venesia, Italia, yang suka meminta bayaran berupa keratan daging manusia dari orang-orang yang tidak sanggup membayar hutang beserta bunganya yang mencekik leher.

Mungkin kita hanya menganggap apa yang ditulis tersebut sebagai 'ilusi' Shakespeare belaka. Bahkan, bila saja Shakespearre hidup di jaman sekarang dan belum telanjur dianggap sebagai sastrawan besar, ia tentu sudah dicap sebagai 'anti-semit', 'hater' dan penyebar 'hoax' dan kemudian hidupnya berakhir di penjara.


Tapi benarkah itu hanya ilusi belaka? Jawabnya adalah 'sama sekali tidak'. Sebagai seorang sastrawan besar, Shakespeare adalah seorang jenius, juga filsuf yang memahami sejarah bangsanya. Ia faham betul mengapa raja Longshanks pada tahun 1298 mengusir semua orang yahudi dari Inggris, yaitu karena ditemukannya praktik-praktik mengkonsumsi darah manusia oleh orang-orang yahudi di hari-hari besar mereka. Darah itu biasanya didapatkan dengan cara menculik orang-orang non-yahudi, terutama anak-anak, kemudian menyiksa mereka dengan menyayat leher mereka dan  membiarkan darah mereka menetes ke dalam tampungan setelah mereka digantung dengan kepala di bawah. Shakespeare tentu juga mengetahui bahwa sekelompok dari orang-orang yahudi penyuka darah manusia itu juga menyukai kuliner ekstrim, yaitu daging manusia. (Bagi yang merasa asing dengan topik ini silakan lihat link di sini, di sini dan di sini).

Dari sinilah kemudian munculnya imajinasi tentang drakula, vampire dan zombie di industri film Hollywood, yang kebetulan juga dikuasai oleh orang-orang yahudi.

Sekitar akhir Oktober dan sebelum pemilihan umum Amerika tanggal 9 November 2015 lalu, Direktur Penyidik Federal Amerika (FBI) James Comey mengumumkan dibukanya kembali penyidikan terhadap kandidat presiden Hillary Clinton atas dugaan keterlibatan dalam jaringan pedophilia dan prostitusi.

Karena sensitifnya kasus ini, FBI telah membekukan kasus ini beberapa bulan sebelumnya. Namun desakan internal FBI serta adanya temuan bukti-bukti baru membuat Comey tidak bisa lagi menyembunyikan kasus ini. Bukti baru tersebut adalah file-file di dalam komputer milik Anthony Weiner, pembantu dekat Hillary yang mantan anggota Kongres berdarah yahudi asal New York.

Weiner sendiri adalah pribadi yang kontroversial sebelum dipilih oleh Hillary sebagai anggota tim pemenangan kampanye dalam pilpres lalu. Berulangkali terlibat dalam skandal seks dan pedhopilia tidak membuatnya masuk penjara dan tersisih dari kekuasaan, dan bahkan dipilih Hillary sebagai orang dekatnya. Weiner juga mantan suami dari Huma Abedin, sekretaris pribadi Hillary yang oleh banyak orang disebut-sebut sebagai pasangan lesbian Hillary.

File-file yang ditemukan di komputer Weiner di antaranya terkelompok dalam folder bernama “life insurance” yang berisi catatan penerbangan pribadi Hillary dan suaminya yang mantan presiden Amerika, Bill Clinton. File-file ini menghubungkan Hillary dan suaminya dengan jaringan prostitusi dan pedhopilia yang berpusat di Pulau Little St. James, Puerto Rico, milik yahudi bernama Jeffrey Epstein.

Kemudian folder kedua “DNC Nuclear Arsenal” berisi hal-hal kotor yang dirahasiakan mengenai Podesta bersaudara dan para pejabat Partai Demokrat (partainya Hillary). Sedangkan di folder ketiga bernama “Intimate” berisi sejumlah gambar dan foto-foto porno yang di antaranya adalah foto tidak senonoh yang diadegankan oleh Huma Abedin, Hillary Clinton dan seorang remaja.

Perlu dijelaskan bahwa Podesta bersaudara adalah John Podesta dan Tony Podesta. Yang pertama adalah mantan Kepala Staff Kepresidenan Barack Obama dan manajer kampanye Hillary, dan yang kedua adalah pemilik restoran pizza 'Pingpong' yang menjadi asal nama kasus ini, Pizzagate.

Pembukaan kembali penyidikan kasus Hillary Clinton ternyata hanya bertahan beberapa hari, karena hanya dua hari menjelang pemilihan presiden, FBI kembali menutup kasus ini tanpa kejelasan. Meski demikian, kasus kebusukan ini telah terlanjur tersebar luas, terima kasih kepada internet.

"Kucing yang telah melompat dari dalam tas beberapa tahun yang lalu tidak akan mungkin masuk kembali, meski Comey (Direktur FBI) menutup kembali kasus ini dua hari sebelum pemilihan presiden. Di atas semuanya, pertanyaan-pertanyaan dan keraguan sekitar jaringan perdagangan internasional anak-anak budak seks telah terbentuk dan terdokumentasi jauh sebelum merebaknya kasus 'Pizzagate'. Kasus terbaru ini (Pizzagate) mengindikasikan dengan kuat bahwa hanya selemparan batu dari Gedung Putih, sebuah kejahatan seks terbesar dalam sejarah melibatkan tidak saja John dan Tony Podesta, tapi juga suami istri Clinton dan Barack Obama," tulis Joachim Hagopian di situs Sott.net, 2 Desember 2016 lalu.(ca)


(bersambung)

No comments: