Sunday, 8 January 2017

Turki Ancam Tutup Incirlik, Erdogan dalam Bahaya Besar

Indonesian Free Press -- Hubungan Turki dengan Amerika dan NATO berada di titik paling buruk setelah Turki mengancam akan menutup pangkalan NATO di Incirlik, Turki selatan. Para pengamat menyebut Presiden Erdogan kini dalam posisi yang sangat berbahaya.

Dalam wawancara dengan 24 Channel hari Kamis (5 Januari), Jubir Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin mengatakan bahwa Turki berhak untuk menutup pangkalan udara NATO di Incirlik. Selama ini pangkalan ini menjadi basis utama operasi Amerika-NATO melawan terorisme di Suriah dan Irak.

Pernyataan ini menyusul sejumlah kecaman pejabat Turki tentang peranan NATO dalam membantu Turki dalam operasi militer di Suriah. Terutama pada saat Turki kepayahan menghadapi ISIS dalam pertempuran di kota al Bab.

"Kami selalu memiliki hak untuk mengatakan, 'kami akan menutup pangkalan ini'. Namun seperti saya katakan, kondisinya masih akan dievaluasi," kata Kalin.

Sehari sebelumnya, tidak kurang dari Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Turki berkomentar negatif tentang peranan pangkalan Incirlik bagi kepentingan Turki. Menlu Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada wartawan, Rabu (4 Januari) bahwa Turki tidak melihat adanya dukungan dari Amerika-NATO pada saat Turki terlibat perang mati-matian melawan ISIS di Al-Bab. Berkali-kali pasukan Turki dan milisi yang didukungnya dipukul mundur oleh ISIS di kota itu.

"Rakyat kami bertanya, ‘mengapa Anda membiarkan mereka (Amerika dan koalisinya) berada di Incirlik?'” kata Cavusoglu kepada televisi NTV.

Hal senada dikatakan oleh Menhan Fikri Isik yang mempertanyakan keberadaan keberadaan pasukan Amerika dan NATO di Incirlik, namun tidak memberikan manfaat bagi Turki dalam pertempuran melawan ISIS.

Sebelumnya, pemerintah Turki sudah dibuat marah oleh peranan pangkalan udara ini dalam kudeta militer Turki bulan Juli 2015 lalu. Pangkalan ini menjadi basis operasi pemberontakan dan pesawat-pesawat tempur serta helikopter yang terlibat dalam kudeta tinggal landas dari pangkalan ini.

Pangkalan ini diketahui menyimpan puluhan rudal nuklir taktis NATO dan dianggap memiliki peran sangat strategis bagi persekutuan militer Amerika dan sekutu-sekutunya itu. Bila Turki benar-benar menutup pangkalan ini, maka aliansi NATO kemungkinan besar akan tumbang. Demikian analisis Ian Greenhald dari Veterans Today, kemarin.

"Retorika tentang penutupan Incirlik menjadi tanda awal bagi realisasi penutupan pangkalan itu dan bahkan keluarnya Turki dari NATO. Dan jika Turki keluar dari NATO, kemungkinan besar akan menjadi berakhirnya koalisi ini," tulis Ian.

Menurut Ian, ancaman tersebut dan ditambah dengan pernyataan Turki akan menarik pasukannya dari Irak, menjadi langkah penting bagi perubahan haluan politik luar negeri Turki dari sebelumnya pro-Amerika-Saudi menjadi pro Rusia-Iran.

"Turki sangat nyata tengah meninggalkan Washington dan mendekati Moscow. Dan meski secara 'defacto' masih menjadi anggota koalisi pimpinan Amerika, hal ini sepertinya tidak akan lagi," tambah Ian.

Editor senior Veterans Today Gordon Duff, dalam wawancara dengan Press TV, 4 Januari lalu, mengatakan bahwa kondisi yang dihadapi oleh Presiden Turki Tayyep Erdogan saat ini adalah sangat membahayakan karena semua sekutunya kini bermusuhan dengannya.

“Dalam proses ini, dengan semua permainan yang dimainkannya (Erdogan), Israel kini memusuhinya dan Saudi juga memusuhinya. Dan meski ia melakukan kesepakatan ganda melawan Iraq, memperdagangkan minyak ilegal Irak dengan pemimpin Kurdi Irak Barzani dan ISIS, persekutuan rahasia ini berbalik menjadi musuhnya. NGO-NGO, yang sebelumnya digunakan untuk menyelundupkan senjata ke para teroris kini juga memusuhinya. Dan kini ia (Erdogan) melihat bahwa CIA pun telah memusuhinya,” kata Duff.

Sementara itu wartawan senior Thierry Meyssan dalam tulisannya di Voltairenet.org, 3 Januari lalu, menyebut bahwa posisi Erdogan saat ini sama dengan Aldo Moro, Perdana Menteri Italia yang tewas dibunuh oleh CIA dengan menggunakan tangan 'ekstremis kiri' pada era Perang Dingin dekade 1970-an. Baik Erdogan maupun Moro, keduanya pemimpin negara anggota NATO, namun dimusuhi oleh Amerika dan koalisi militer ini.

Menurut Mayssan, sejak tahun 2013, Amerika menganggap Erdogan sebagai sekutu yang tidak bisa dipercaya dan karenanya CIA telah berulangkali melakukan operasi rahasia melawan Erdogan, yang puncaknya adalah kudeta gagal bulan Juli 2015 lalu.

"CIA telah melancarkan sejumlah operasi, tidak untuk melawan Turki, namun terhadap pribadi Mr. Erdogan," tulis Mayssan. Menurut Mayssan, CIA yang berada di belakang aksi-aksi demonstrasi besar-besaran menentang kekuasaan Erdogan pada pertengahan 2013, dengan memanfaatkan isyu pembangunan Taksim Gezi Park yang kontroversial. Selama pemilu bulan Juni 2015, CIA mendukung kelompok-kelompok minoritas, terutama HDP, untuk mencukuri kekuasaan Erdogan. Hal ini diulangi dalam pemilu bulan November 2015, yang berhasil mengurangi perolehan suara partai pendukung Erdogan. Tidak hanya itu, Mayssan juga menyebut CIA telah empat kali melakukan percobaan pembunuhan terhadap Erdogan.

Terlepas dari itu semua, dengan perubahan haluan politik Erdogan menjadi pro-Iran, otomatis menjadikannya musuh bagi kelompok-kelompok ekstremis Sunni dan Wahabi, termasuk negara-negara pendukung kelompok-kelompok ini seperti Saudi dan negara-negara Teluk. Bahkan di antara gerakan Ikhwanul Muslimin sendiri yang selama ini membesarkan Erdogan, sudah pasti muncul perlawanan terhadapnya. Ditambah dengan permusuhan yang dilakukannya kepada orang-orang Kurdi, para pendukung Fethullah Gullen dan kelompok-kelompok nasionalis-sekuler, membuat Erdogan dan masa depannya berada dalam posisi yang paling tidak aman sepanjang hidupnya.(ca)

2 comments:

Anonymous said...

kalau Erdogan pindah ke kubu Rusia-Iran (syiah), bagaimana sikap PKS terhadap Erdogan setelahnya??? ..kita ikuti perkembangan selanjutnya,,apakah PKS akan menjadi syiah??? hehehehe

Kasamago said...

Turki memang seharusnya neninggalkan NATO sejak awal. Lebih cocok dan tepat bila bergabungbdi kelompok BRICS