Tuesday 10 October 2017

Pemimpin Hizbollah Ingatkan Warga Israel untuk Pergi

Indonesian Free Press -- Di antara para pemimpin dunia, mungkin pemimpin kelompok Hizbollah, Hassan Nasrallah, adalah orang yang paling kosisten antara 'perkataan dan perbuatan'. Karenanya, bahkan warga Israel lebih mempercayai perkataannya daripada perkataan pemimpin negaranya sendiri.

Dalam Perang Lebanon II tahun 2006, warga Israel yang mengungsi ke hotel-hotel menolak kembali ke rumahnya seperti permintaan pemerintah Israel. Mereka baru bersedia kembali ke rumah setelah Nasrallah memberikan jaminan keamanan pada warga sipil Israel.

"Pernyataan-pernyataan Nasrallah yang jujur merupakan bagian dari kepribadiannya yang dihormati secara global. Setiap perkataannya dilakukan dengan terukur dan tepat. Ia ahli menjalankan perang psikologis melawan Israel dengan mengungkapkan kebobrokan Israel yang disembunyikan media-media Israel," tulis situs Plato’s Guns tentang Nasrallah, 3 Oktober 2017.


Terkait dengan itu, Nasrallah baru-baru ini mengeluarkan pernyataan mengejutkan dengan meminta warga Israel untuk meninggalkan negerinya karena ancaman perang. Dengan pernyataan ini, maka kekhawatiran dunia bahwa bakal terjadi perang antara Hizbollah melawan Israel, seperti tahun 2006, akan terulang kembali. Dan, mengingat bahwa situasi kawasan sudah sangat jauh berubah, dimana kekuatan-kekuatan militer dunia, baik yang berada di Suriah, Irak dan Afghanistan, telah dalam kondisi siap perang, maka peperangan kali ini akan berjalan jauh lebih besar.

"Anda (warga Israel) tidak akan lagi memiliki cukup waktu untuk pergi setelah perang dimulai. Dan tidak ada tempat yang aman bagi Anda di negeri Palestina," kata Nasrallah dalam pidato yang disiarkan media-media Lebanon.

Menurut Nasrallah, Hezbollah tidak berperang melawan yahudi, melainkan melawan Zionisme. Nasrallah juga mengatakan bahwa warga yahudi yang dikirim ke Palestina dari berbagia penjuru dunia oleh para pemimpin Zionist, hanya memperalatan mereka dan tidak pernah peduli dengan keselamatan mereka.  

“Pertimbangkan keselamatan pribadi Anda, hari ini, sebelum Anda terpedaya oleh pemerintah Anda. Netanyahu, pemimpin Anda, tengah menyeret anda ke jalan yang menuju ke medan perang, sebuah perang yang akan membuat Anda kalah karena kebodohan para pemimpin Anda karena mereka tidak memiliki rencana perang yang efektif karena mereka tidak mengetahui kekuatan militer kami, jangkauan kami yang jauh dan dalam, keberadaan dan kekuatan senjata-senjata kami, dan kemampuan tempur kami. Rencana perangnya (Netanyahu) melawan kami bakal gagal, dan Andalah sebagai orang yahudi yang harus membayar harga mahal karena kegagalan itu,” kata Nasrallah.

Pernyataan Nasrallah ini seperti meniru para pejuang Aljazair kepada warga kolonialis Perancis sebelum perang kemerdekaan:

Pilih kopor atau peti mati, 'La Valise Ou Le Cercueil'.

Perkataan Nasrallah itu mengindikasikan bahwa rumor tentang persiapan perang Israel terhadap Hizbollah, benar adanya. Nasrallah tidak pernah berkata 'pepesan kosong'. Dengan rencana zionis yang gagal di Suriah maupun Irak, zionis Israel akan berusaha menciptakan perang baru sebagai bentuk kegigihan mereka untuk menghancurkan tetangga-tetangganya, Lebanon, Suriah, Iraq dan Iran.

"Mendung perang kini telah terlihat, mendekat dan mengumpul di atas Israel, dan pemicunya bisa apa saja, termasuk sesuatu yang sepele," tulis Plato’s Guns.

Namun, perang kali ini akan menjadi sebuah 'perang besar', dan kota-kota besar Israel akan mengalami kehancuran sebagaimana Mosul dan Aleppo.(ca)

No comments: